Bondowoso, sinar.co.id,- Dinamika Musyawarah Cabang (Muscab) X Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bondowoso menghadirkan warna berbeda. Meski lazimnya ketua formatur otomatis menjadi ketua terpilih, kali ini ruang kompetisi justru dibuka lebar.
Plt Wakil Ketua DPC PPP Bondowoso, Ahmadi, yang terpilih sebagai ketua formatur, menegaskan komitmennya untuk memberi kesempatan kepada seluruh kader terbaik PPP yang memenuhi syarat.
“Karena saya yang dipercaya sebagai ketua formatur dari unsur DPC, kami tidak akan menutup ruang bagi sahabat-sahabat kader PPP maupun kader potensial untuk mendaftarkan diri sebagai calon ketua DPC,” ujarnya usai Muscab di Palm Hotel, Senin (04/05/2026).
Menurutnya, mekanisme penjaringan tetap mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PPP. Salah satu syarat utama adalah pernah menjadi pengurus PPP, baik di tingkat DPC maupun PAC, minimal satu periode atau satu tahun.
Ahmadi bahkan menegaskan sikap terbuka dan legowo jika terdapat figur yang dinilai lebih layak.
“Insyaallah kami siap. Tidak harus saya. Kalau ada yang lebih baik dan lebih memenuhi kriteria, kami siap memberikan mandat itu,” tegasnya.
Formatur Bertambah, Keputusan Ditentukan Kolektif
Struktur tim formatur juga diperluas. Selain lima formatur hasil Muscab—terdiri dari satu unsur DPC dan empat unsur PAC—akan ada tambahan dua formatur dari DPW dan DPP yang bersifat ex officio.
Dengan demikian, tujuh formatur akan bermusyawarah menentukan ketua DPC PPP Bondowoso beserta jajaran kepengurusan definitif.
“Keputusan nantinya diambil bersama, dengan tetap meminta pertimbangan ulama dan masayikh sebagai bagian penting dari PPP,” tambah Ahmadi.

Pesan DPW: Jangan Tinggalkan Ulama dan Basis Pesantren
Di sisi lain, Bendahara DPW PPP Jawa Timur, Hj. Umil Sulistyoningsih, S.Ag, menekankan pentingnya soliditas dan arah perjuangan kepengurusan baru.
Ia mengingatkan bahwa PPP lahir dari rahim ulama, sehingga hubungan dengan pesantren tidak boleh terputus.
“Pesan dari para kyai, kepengurusan ke depan harus lebih baik, lebih kompak, dan yang terpenting jangan sampai meninggalkan kyai dan pesantren,” ujarnya.
Menurut Umil, meski saat ini terjadi dinamika di tingkat pusat, roda organisasi di daerah harus tetap berjalan.
“Biarlah persoalan di DPP menjadi kewenangan pusat. Di daerah, kita harus tetap menjaga semangat dan merawat akar rumput,” tegasnya.
Partisipasi Suara dan Dinamika Muscab
Dari data yang dihimpun, pemilihan formatur dalam Muscab – X DPC PPP Bondowoso melibatkan 22 suara dari unsur DPC, PAC, dan badan otonom (Banom). Jumlah ini seharusnya mencapai 25 suara, namun tiga PAC tidak dapat berpartisipasi karena kendala administratif, termasuk adanya pengurus yang telah meninggal dunia.
Adapun hasil formatur terpilih dari unsur DPC, Ahmadi terpilih unggul dengan perolehan 9 suara, diatas Barri Sahlawi Zein dengan 8 suara dan Syaiful Bahri dengan 5 suara.

Sementara dari unsur PAC, persaingan berlangsung lebih ketat dengan 12 kandidat yang ikut serta. Suharyono berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 14 suara. Di bawahnya, Badrus, Yunus, dan Abu Hasan sama-sama mengantongi 9 suara.
Momentum Regenerasi dan Konsolidasi
Muscab X PPP Bondowoso tak sekadar forum pemilihan, tetapi menjadi momentum konsolidasi dan regenerasi kepemimpinan. Dengan dibukanya ruang kompetisi secara terbuka, PPP Bondowoso memberi sinyal kuat bahwa kepemimpinan ke depan akan ditentukan oleh kualitas, bukan sekadar tradisi.
Kini, publik menanti siapa figur yang akan muncul dari proses musyawarah tujuh formatur—figur yang tidak hanya memenuhi syarat organisasi, tetapi juga mampu menyatukan kader dan menguatkan basis PPP hingga ke akar rumput.












