Bondowoso, sinar.co.id,- Dinamika pergantian kepemimpinan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bondowoso mulai memanas. Di tengah proses pasca Musyawarah Cabang (Muscab) X, berhembus isu dugaan adanya “SK siluman” ketua definitif yang disebut-sebut sudah disiapkan bahkan sebelum forum Muscab digelar.
Isu tersebut langsung memantik keresahan di internal partai berlambang ka’bah itu. Sebab, jika benar terjadi penetapan sepihak tanpa melalui mekanisme formatur hasil Muscab, kondisi itu dikhawatirkan memicu perpecahan baru di tubuh PPP Bondowoso.
Diketahui, dalam Muscab X DPC PPP Bondowoso mengerucut tiga nama kandidat calon ketua, yakni Plt Ketua DPC PPP Bondowoso Barri Sahlawi Zein, Sekretaris DPC PPP Bondowoso Syaiful Bahri, serta Plt Wakil Ketua DPC PPP Bondowoso Ahmadi.
Ketiga nama tersebut nantinya akan dibahas oleh tujuh formatur terpilih sebelum diajukan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan definitif.
Isu SK Siluman
Namun di tengah proses itu, muncul kabar salah satu kandidat yang tidak unggul dalam formatur disebut-sebut mengklaim telah lebih dulu mengantongi restu dan bakal menerima SK langsung dari DPP tanpa melalui hasil keputusan formatur.
Seorang perwakilan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) PPP yang meminta identitasnya dirahasiakan menilai isu tersebut sangat berbahaya bagi masa depan PPP di Bondowoso.
“Kalau sampai benar ada SK yang turun tanpa mekanisme formatur, maka PPP Bondowoso bisa hancur. Kader di bawah akan kecewa karena Muscab seolah hanya formalitas,” ujarnya Kamis, (7/5/2026).
Menurutnya, pengalaman buruk periode sebelumnya jangan sampai terulang kembali. Pada Muscab IX lalu, posisi sekretaris DPC disebut bukan hasil kesepakatan forum, melainkan penunjukan langsung dari pusat. Dampaknya, hubungan ketua dan sekretaris tidak berjalan harmonis sepanjang periode kepengurusan.
“Kondisi internal tidak pernah benar-benar solid. Akibatnya kerja politik tidak maksimal,” katanya.
Ia menilai konflik internal tersebut ikut menjadi salah satu penyebab merosotnya suara PPP pada Pemilu 2024, khususnya untuk level DPR RI dan DPRD Provinsi. Bahkan secara nasional, PPP gagal mempertahankan kursi di Senayan.
“Jangan sampai kesalahan lama diulang lagi. Kalau pusat tetap memaksakan kehendak tanpa melihat aspirasi bawah, kader bisa semakin kehilangan kepercayaan,” imbuhnya.
Kader akar rumput kini berharap kepemimpinan PPP di bawah Ketua Umum PPP Mardiono mampu menghadirkan perubahan dan menghormati mekanisme organisasi yang telah disepakati bersama.
Mereka juga meminta proses penentuan ketua DPC PPP Bondowoso dilakukan secara transparan, terbuka, dan tidak melahirkan kepemimpinan yang sejak awal dibayangi konflik internal.
Sebab bagi kader di tingkat bawah, soliditas partai hari ini menjadi penentu apakah PPP mampu bangkit atau justru kembali terpuruk pada kontestasi politik mendatang.












