Bondowoso, sinar.co.id,- Turnamen sepak bola pelajar Junior Soccer Cup 2026 tingkat SMP dan SMA yang digelar sejak 22 April hingga 2 Juni 2026 di Stadion Magenda Bondowoso menuai apresiasi sekaligus sorotan tajam dari kalangan legislatif.
Anggota DPRD Bondowoso Fraksi PPP, Ahmadi, mengaku bangga terhadap keberhasilan panitia dari J Group Sportiva yang mampu menyelenggarakan kompetisi bergengsi tersebut secara mandiri, meski tanpa dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
Menurut Ahmadi, informasi yang diterimanya bahkan menyebut panitia harus menyewa stadion dan menanggung berbagai kebutuhan penyelenggaraan secara swadaya.
“Awalnya saya berpikir ada dukungan dan keterlibatan pemerintah daerah, terutama Disparbudpora dan Dinas Pendidikan. Namun setelah saya mengikuti langsung kegiatan ini, ternyata tidak ada sama sekali. Bahkan informasinya panitia juga harus menyewa stadion tiap kali pertandingan,” ujarnya pada Sabtu, (30/05/2026).
Politisi PPP itu menilai semangat gotong royong dan kemandirian yang ditunjukkan para pemuda dalam J Group Sportiva patut menjadi contoh. Dengan keterbatasan anggaran, mereka mampu menghadirkan kompetisi yang berlangsung lebih dari satu bulan hingga babak final dengan sukses.
Namun di balik kesuksesan tersebut, Ahmadi mengaku kecewa terhadap minimnya kehadiran pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan.
Dalam acara final Junior Soccer Cup 2026 tingkat SMP, panitia diketahui mengundang berbagai unsur Forkopimda dan instansi terkait. Sejumlah tamu undangan hadir, mulai dari unsur kepolisian, TNI, Kementerian Agama hingga anggota DPRD. Namun pihak Dinas Pendidikan yang diharapkan hadir justru tidak tampak.
“Kalau kepala dinas berhalangan hadir, minimal bisa diwakilkan. Kehadiran pemerintah itu penting sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras para pemuda dan para pelajar yang berjuang dalam kompetisi ini,” tegasnya.
Ia menilai, di tengah gencarnya slogan mencetak Generasi Emas Indonesia, pemerintah seharusnya tidak hanya berbicara pada tataran program dan konsep. Kehadiran langsung di lapangan untuk memberikan motivasi dan pembinaan kepada generasi muda dinilai jauh lebih bermakna.
“Kalau memang tidak bisa membantu anggaran karena alasan efisiensi, setidaknya bisa memberikan dukungan moral. Hadir saja sudah menjadi penghormatan bagi para pelajar. Apalagi jika sampai memberikan arahan dan pembinaan, itu akan menjadi penyemangat luar biasa,” katanya.
Ahmadi mengaku merasakan langsung kekecewaan para peserta dan panitia yang menunggu kehadiran sejumlah pejabat daerah. Bahkan menurut informasi yang diterimanya, sempat ada kabar perwakilan pemerintah akan hadir sehingga acara mengalami penyesuaian waktu. Namun hingga kegiatan berlangsung, yang ditunggu tidak kunjung datang.
“Saya melihat sendiri bagaimana para pelajar berharap mendapat perhatian. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kesan yang muncul adalah mereka seperti diabaikan,” ungkapnya.
Meski demikian, Ahmadi memberikan apresiasi tinggi kepada panitia yang tetap menunjukkan profesionalisme dan optimisme hingga seluruh rangkaian final berjalan lancar.
“Yang membuat saya bangga, panitia tidak larut dalam kekecewaan. Mereka tetap fokus, tetap optimis, dan mampu menyelesaikan turnamen ini dengan sukses. Ini bukti bahwa anak-anak muda Bondowoso memiliki kemampuan besar jika diberi ruang dan dukungan,” pungkasnya.
Optimisme Turnamen Junior Soccer Cup 2026
Keberhasilan Turnamen Junior Soccer Cup 2026 tanpa dukungan anggaran pemerintah sekaligus menjadi cermin bahwa semangat masyarakat dan pemuda masih menjadi motor utama pembinaan olahraga di Bondowoso. Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan publik: di mana peran pemerintah saat generasi muda sedang berjuang menunjukkan prestasinya?












