Scroll untuk membaca artikel
Daerah

Jangan Jadikan Monyet “Pengemis Hutan”, Aksi Bagi Pakan di Arak-Arak Dinilai Berpotensi Rusak Perilaku Satwa Liar

Redaksi
729
×

Jangan Jadikan Monyet “Pengemis Hutan”, Aksi Bagi Pakan di Arak-Arak Dinilai Berpotensi Rusak Perilaku Satwa Liar

Sebarkan artikel ini
monyet

Bondowoso, sinar.co.id,- Aksi puluhan relawan membagikan makanan kepada kawanan monyet liar di kawasan Pegunungan Arak-Arak, Bondowoso, Sabtu (11/7/2026), menuai perhatian publik. Di balik aksi yang menuai simpati tersebut, muncul kritik dari kalangan pemerhati hukum dan konservasi yang menilai kebiasaan memberi makan satwa liar justru dapat membawa dampak buruk bagi kelestarian mereka.

Ketua LKBH Merah Putih, Ahroji SH, menilai tindakan tersebut tidak dapat dipandang sekadar sebagai bentuk kepedulian terhadap satwa yang kesulitan mencari makan saat musim kemarau. Menurutnya, tanpa kajian konservasi yang tepat, aksi tersebut justru berpotensi mengubah perilaku alami satwa liar.

“Yang sangat kami sesalkan, dalam pemberitaan juga terlihat keterlibatan pihak Perhutani KPH Bondowoso yang seharusnya memahami dampak negatif dari pemberian pakan kepada satwa liar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berkurangnya sumber pakan alami saat musim kemarau memang menjadi tantangan bagi satwa liar. Namun, berbagai penelitian konservasi menunjukkan bahwa pemberian makanan secara langsung oleh manusia dapat membuat satwa kehilangan naluri mencari makan di habitatnya.

Monyet yang terbiasa memperoleh makanan dari manusia lambat laun akan bergantung pada pemberian tersebut. Akibatnya, mereka semakin sering turun ke jalan, mendekati permukiman, hingga menunggu kedatangan pengunjung. Ketika makanan tidak tersedia, perilaku satwa berpotensi berubah menjadi agresif.

Baca Juga :   Rakor Pajak Kendaraan Bermotor, Pemkab Bondowoso Perkuat Strategi Dongkrak PAD

Fenomena tersebut telah terjadi di sejumlah kawasan wisata di Indonesia. Monyet yang semula hidup liar berubah menjadi berani merebut makanan pengunjung, merusak kendaraan, memasuki rumah warga, bahkan menggigit manusia. Konflik antara manusia dan satwa pun meningkat akibat kebiasaan memberi makan yang awalnya dilandasi niat baik.

Selain mengubah perilaku, pemberian makanan yang tidak sesuai juga dapat mengganggu kesehatan satwa. Buah-buahan atau makanan lain yang bukan bagian dari pola makan alaminya berisiko memicu gangguan pencernaan, ketidakseimbangan nutrisi, hingga mengganggu keseimbangan populasi satwa di habitatnya.

Dari sisi ekologi, kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi rantai makanan alami. Satwa tidak lagi menjalankan fungsi ekologisnya secara optimal, seperti membantu penyebaran biji tanaman maupun menjaga keseimbangan vegetasi hutan.

Secara regulasi, perlindungan satwa liar di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Regulasi tersebut menegaskan pentingnya menjaga satwa liar tetap hidup sesuai perilaku alaminya di habitat masing-masing.

Di berbagai kawasan konservasi maupun hutan yang dikelola pemerintah, larangan memberi makan satwa liar telah lama diterapkan. Kebijakan tersebut bertujuan mencegah perubahan perilaku satwa, mengurangi risiko penularan penyakit, serta meminimalkan konflik antara manusia dengan satwa liar.

Baca Juga :   Release Kodim 0822 Atas Polemik Warga Kaligedang

Apabila musim kemarau benar-benar menyebabkan krisis pakan, Ahroji menilai penanganan semestinya dilakukan oleh instansi berwenang melalui kajian ilmiah, seperti restorasi vegetasi, penyediaan sumber air, atau pemberian pakan darurat secara terbatas dan terukur apabila memang diperlukan.

“Rasa sayang kepada satwa liar bukan berarti membuat mereka bergantung kepada manusia. Bentuk kepedulian yang sesungguhnya adalah menjaga habitatnya tetap lestari sehingga mereka mampu bertahan hidup secara alami,” tegasnya.

Ahroji menyebut, masih banyak inovasi lain bagi Perhutani untuk direalisasikan, mengingat kawasan hutan kita di Bondowoso saat ini cukup meprihatinkan.

“Berdasar hasil laporan masyarakat, saya bukan tidak tahu adanya potensi penyimpangan yang sudah ada maupun akan dilakukan namun, saya masih melihat dampak multi evek yang akan terjadi saat ada pengungkapan,” cetusnya seolah ada rahsia.

Tanggapan Pihak Perhutani KPH Bondowoso

Saat dikonfirmasi, pihak ADM Perhutani Bondowoso tidak mrmberikankan tanggapan secara rinci dan tidak berkenan penjelasannya dikutib untuk diunggah di media mainstream.

Disparbudpora: Pengunjung Memang Dilarang Memberi Makan Monyet

Sementara itu, Kepala Disparbudpora Bondowoso, I Gede Budiawan, menegaskan bahwa monyet di kawasan wisata Arak-Arak merupakan satwa liar yang selama ini justru kerap menimbulkan gangguan.

Menurutnya, kawanan monyet beberapa kali merusak fasilitas umum, lapak pedagang, hingga instalasi listrik pada ikon tulisan wisata Arak-Arak. Bahkan, belakangan kawanan monyet juga dilaporkan sering muncul di kawasan Paltuding, Kecamatan Ijen.

Baca Juga :   Urung Mencabut Laporan, Dugaan Pemukulan Perawat RSUD dr. Koesnadi Tetap Berlanjut ke Jalur Hukum

“Selama ini justru kami berupaya menghalau kawanan monyet karena sering merusak fasilitas umum. Pengunjung memang tidak diperbolehkan memberi makan satwa liar agar mereka tidak bergantung pada manusia dan tetap memiliki sifat alaminya,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparbudpora Bondowoso, Intan Puspita Dewi. Ia mengatakan larangan memberi makan satwa liar sebenarnya telah diterapkan di kawasan wisata Arak-Arak, meski tidak dipasang secara mencolok dalam bentuk papan besar agar tidak mengganggu estetika kawasan.

Sebagai gantinya, petugas rutin menyampaikan imbauan melalui pengeras suara kepada setiap pengunjung.

“Kami terus mengingatkan pengunjung melalui pengeras suara agar tidak memberi makan kawanan monyet liar. Tujuannya supaya satwa tidak kehilangan karakter alaminya dan tidak bergantung pada manusia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa menjaga satwa liar bukan hanya soal memberi makan ketika terlihat lapar, tetapi memastikan mereka tetap mampu bertahan hidup secara alami di habitatnya tanpa ketergantungan terhadap manusia.

https://www.tiktok.com/@sinar.co.id

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp