Bondowoso, sinar.co.id,- Karya batik khas SMA Negeri 2 Bondowoso (SMADA) menjadi salah satu daya tarik utama dalam kunjungan tim asesor internasional pada proses revalidasi UNESCO Global Geopark (UGGp) Ijen, Kamis (6/8).
Batik yang dirancang dan diproduksi langsung oleh para siswa itu mendapat apresiasi karena dinilai mampu merepresentasikan kekayaan geologi sekaligus identitas budaya Bondowoso.
Di hadapan dua asesor UNESCO, Mr. Andreas Josef Schueller dari Jerman dan Miss Li Yue dari Tiongkok, siswa SMADA memperkenalkan batik yang mengangkat berbagai ikon daerah, mulai dari Gua Buto, daun singkong, tembakau, kopi Bondowoso, hingga bentang alam Ijen dengan fenomena blue fire.
Motif tersebut dipadukan dengan unsur seni tradisional seperti Singo Ulung dan Topeng Konah sehingga menghasilkan karya yang sarat makna.
Disampaikan Mr. Andreas Josef Schueller, batik khas karya anak-anak sekolah ini cukup memukau.
“Ini bukan hanya sekedar coretan diatas kanfas melainkan sebuah karya seni yang perlu mendunia,” ujarnya dikonfirmaai usai Closing Meeting di Pendopo 🏷️ Bupati Bondowoso.
Karakteristik Batik Karya SMADA
Sementara, Kepala SMAN 2 Bondowoso, Holifah Nurazizah, mengatakan batik yang dikembangkan siswa bukan sekadar produk kerajinan, melainkan media edukasi untuk mengenalkan nilai-nilai geopark kepada masyarakat.
“Melalui batik, siswa belajar mengenali kekayaan geologi, budaya, dan potensi daerahnya sendiri. Mereka tidak hanya menciptakan motif, tetapi juga memahami cerita yang terkandung di balik setiap desain,” ujarnya.
Menurut Holifah, kehadiran batik khas SMADA dalam proses revalidasi UNESCO menunjukkan bahwa pelestarian warisan alam dapat berjalan beriringan dengan penguatan budaya lokal. Karya tersebut menjadi bagian dari implementasi program Geopark Integrated School yang telah diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Selama kunjungan, para Duta Geopark SMADA turut mendampingi tim asesor berkeliling sekolah, memperkenalkan Geopark Corner sebagai pusat informasi Ijen UGGp serta berbagai inovasi pembelajaran berbasis geopark. Namun, perhatian terbesar tertuju pada koleksi batik hasil kreasi siswa yang dipamerkan sebagai representasi kekayaan Bondowoso.
Proses pembuatannya melibatkan siswa sejak tahap riset, penyusunan filosofi motif, membatik, hingga pengembangan desain busana. Pendekatan tersebut menjadikan batik tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran yang menghubungkan warisan geologi, lingkungan, dan budaya dalam satu karya.
Holifah menegaskan, program Geopark Integrated School bukan sekadar memenuhi kebutuhan administrasi revalidasi UNESCO, melainkan telah menjadi ekosistem pendidikan yang mendorong kreativitas sekaligus kepedulian terhadap warisan daerah.
“Kami ingin siswa menjadi generasi yang bangga terhadap daerahnya, memahami nilai warisan alam dan budaya, lalu mampu memperkenalkannya kepada dunia melalui karya nyata,” katanya.
Apresiasi yang diberikan tim asesor terhadap batik karya siswa SMADA menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan berbasis budaya memiliki peran penting dalam memperkuat upaya Ijen mempertahankan status sebagai UNESCO Global Geopark. Karya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sekolah mampu menjadi ruang lahirnya generasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berperan aktif menjaga identitas lokal di tingkat internasional.












