Bondowoso, sinar.co.id,- Melalui pertunjukan teater bertajuk “Sang Penjaga Batu Leluhur”, puluhan pelajar SMKN 1 Sumberwringin (SKANEBER), memilih jalan berbeda dengan menghidupkan kembali pesan tentang pentingnya menjaga warisan Megalitikum Bondowoso.
Hal ini menjadi penggugah semangat generasi milenial di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menjauhkan generasi muda dari akar budayanya.
Pementasan yang dibawakan Grup Seni Teater Akusara itu menjadi salah satu sajian menarik dalam rangkaian kegiatan Jejak Purba Bondowoso di Museum Terbuka Megalitikum Grujugan, Jumat (20/6/2026).
Di hadapan pengunjung, para siswa tidak hanya menampilkan kemampuan seni peran, tetapi juga menyampaikan pesan edukatif tentang nilai sejarah yang tersimpan di balik batu-batu peninggalan nenek moyang.
Sang Penjaga Batu Leluhur Bukan Sekadar Benda Mati
Mengangkat kisah simbolik seorang penjaga situs purbakala, pertunjukan tersebut mengajak masyarakat untuk melihat warisan megalitikum bukan sekadar benda mati, melainkan jejak peradaban yang membentuk identitas Bondowoso hingga hari ini.
Kemasan pertunjukan yang memadukan unsur teater, tari, musik tradisi, dan visual artistik berhasil menarik perhatian penonton. Pesan pelestarian budaya disampaikan dengan cara yang dekat dengan generasi muda, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima.
Makna Teater Akusara
Bagi SMKN 1 Sumberwringin, Teater Akusara bukan hanya ekstrakurikuler seni biasa. Kelompok ini menjadi ruang pembinaan kreativitas sekaligus karakter peserta didik. Berbagai bidang seni dikembangkan secara terpadu, mulai dari seni tari, seni peran, musik tradisional, seni rupa hingga sinematografi.
Konsistensi pembinaan tersebut telah melahirkan sejumlah prestasi. Teater Akusara tercatat meraih Juara 1 Tari Kreasi Tradisional pada Ijen Culture Festival 2023 tingkat SMA/umum se-Kabupaten Bondowoso. Para anggotanya juga terlibat dalam produksi film dokumenter promosi wisata Bondowoso serta berbagai kolaborasi pertunjukan budaya di kawasan Tapal Kuda.
Keikutsertaan dalam pementasan bertema megalitikum ini semakin menegaskan peran pelajar sebagai agen pelestari budaya. Melalui karya seni, mereka menunjukkan bahwa menjaga warisan sejarah tidak selalu dilakukan dengan cara akademis, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kreativitas dan ekspresi panggung.
Pementasan “Sang Penjaga Batu Leluhur” sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi pada keterampilan kerja, melainkan juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran sosial dan budaya. Di tangan generasi muda, situs-situs megalitikum Bondowoso tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi dapat terus hidup sebagai kebanggaan daerah untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebagai sekolah yang berstatus SMK Pusat Keunggulan, SMKN 1 Sumberwringin terus mendorong peserta didik untuk berkontribusi dalam pengembangan potensi lokal.
Melalui berbagai program kreatif dan pelestarian budaya, sekolah ini berupaya mencetak lulusan yang kompeten, inovatif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap warisan daerahnya.












