Bondowoso, sinar.co.id,- Polemik dugaan praktik jual-beli pekerjaan dalam rekrutmen program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bondowoso memasuki babak baru. Bukan sekadar soal “uang jalan” atau jalur orang dalam, kini perhatian publik tertuju pada satu nama misterius yang mulai mencuat: Farhan.
Nama Misterius
Nama tersebut pertama kali disebut oleh ER, perangkat Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami, yang sebelumnya mengakui keterlibatannya sebagai perantara dalam membantu warga mencari pekerjaan di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Namun, di balik pengakuannya, ER justru mengarahkan sorotan pada sosok Farhan yang disebut sebagai pihak yang memengaruhi langkahnya.
“Awalnya saya tidak seperti ini. Ada yang mengarahkan, salah satunya Farhan,” ungkap ER kepada awak media.
Pernyataan itu langsung memantik tanda tanya besar. Siapa sebenarnya Farhan? Apakah ia bagian dari struktur resmi program MBG, atau hanya aktor di luar sistem yang memanfaatkan situasi?
Sejauh ini, identitas Farhan masih gelap. Tidak ada keterangan pasti terkait latar belakang, jabatan, maupun keterlibatannya secara formal dalam program MBG. Namun, penyebutan namanya oleh ER berulang kali menandakan bahwa sosok ini bukan sekadar nama biasa dalam pusaran kasus tersebut.
Di sisi lain, ER tetap mengakui adanya praktik “uang jalan” dalam proses perekrutan. Ia menyebut, peluang bekerja di MBG bisa ditempuh melalui dua jalur: koneksi atau transaksi.
“Kalau punya orang dalam, tidak perlu bayar. Tapi kalau tidak ada akses, ya harus ada biaya,” jelasnya.
Pengakuan tersebut memperlihatkan adanya dugaan sistem tidak resmi yang membuka celah praktik percaloan. Namun menariknya, ER juga mengklaim belum ada satu pun upaya yang membuahkan hasil.
“Belum ada yang berhasil masuk kerja. Masih belum ada,” katanya.
Meski demikian, pernyataan ER yang menyeret nama Farhan dinilai sebagai pintu masuk penting untuk mengurai dugaan jaringan di balik praktik ini. Apalagi, dalam keterangannya, ER juga sempat melontarkan peringatan keras.
“Kalau saya tidak selamat, saya akan seret semua. Saya tidak mau rugi sendiri,” tegasnya.
Nada ancaman tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa praktik ini tidak berdiri sendiri. Ada kemungkinan keterlibatan pihak lain yang lebih luas, yang hingga kini belum terungkap ke publik.
Sementara itu, pihak PJ Kepala Desa Poncogati dan Camat Curahdami telah membenarkan status ER sebagai perangkat desa aktif. Namun, belum ada klarifikasi resmi maupun langkah penanganan lanjutan atas kasus ini.
Kasus ini kini bukan hanya soal dugaan pungli dalam rekrutmen, tetapi juga tentang transparansi dan integritas program strategis pemerintah. Publik menanti, apakah nama Farhan akan terkuak sebagai kunci, atau justru menjadi misteri baru dalam pusaran MBG Bondowoso.












