Scroll untuk membaca artikel
Tradisional

Perkuat Kebangsaan Melalui Pertunjukan Ragam Seni di Lojejer Jember

109
×

Perkuat Kebangsaan Melalui Pertunjukan Ragam Seni di Lojejer Jember

Sebarkan artikel ini
Perkuat Kebangsaan Melalui Pertunjukan Ragam Seni di Lojejer Jember

JEMBER – Tidak bisa dipungkiri, salah satu kekuatan masyarakat Tapal Kuda, dari Pasuruan hingga Banyuwangi, adalah ragam kebudayaan yang terbentuk dari proses historis yang cukup panjang.

Wujudnya yang paling kentara adalah eksistensi ragam kesenian berbasis etnisitas maupun hibriditas antarbudaya.

Perkuat Kebangsaan Melalui Pertunjukan Ragam Seni di Lojejer Jember

Keragaman budaya, apabila dikelola dengan baik, merupakan modal sosial yang cukup baik untuk memperkuat energi kewilayahan dan keindonesiaan.

Untuk menjaga nyala spirit dan praktik keberagaman itulah Direktorat Kebudayaan Kemendikbudristek bekerjasama dengan Pemerintah Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan didukung Dewan Kesenian Jember (Dekaje) dan Pusat Kajian Pemajuan Kebudayaan (Pusakajaya) UNEJ, menggelar pertunjukan ragam seni sebagai bagian dari Galang Gerak Budaya Tapal Kuda (GGBTK). Pertunjukan diselenggarakan di halaman Balai Desa Lojejer, 17/11/23.

Menurut Mohamad Sholeh, Kepala Desa Lojejer, pertunjukan ragam seni menggenapi rangkaian kegiatan GGBTK di Lojejer. Semangat gotong-royong lintas sektor menjadikan kegiatan demi kegiatan berjalan dengan lancar.

“Tahun kemarin kita menggelar Krida Sinatria Bhumi Watangan. Sekarang even itu menjadi bagian dari kegiatan kementerian, GGBTK. Tentu, kita patut berbahagia karena apa yang kita rintis dari bawah mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Namun, ini juga jadi tantangan, agar pemerintah desa, pelaku seni, dan warga, bahu-membahu mengembangkan budaya sebagai warisan untuk anak cucu,” terangnya dalam pidato sambutan.

Baca Juga :   Mata Minus/Plus Sembuh Dengan Melihat Kehijauan

Pertunjukan dibuka oleh suara melengking Pak Yasin, salah satu maestro mamaca (macapat dalam bahasa Madura) Jember. Mamaca berisi cerita Nurbuat tentang Nabi Muhammad SAW, Pandaba tentang kisah para Pandawa, dan Juwa Manik. Untuk kepentingan pertunjukan, Pak Yasin menembankan mamaca yang berisi doa selama sepuluh menit.

Kehadiran kesenian Madura di tengah-tengah warga Lojejer yang mayoritas beretnis Jawa (Mataraman dan Panaragan) menunjukkan bahwa keberbedaan etnis bisa dijembatani melalui ekspresi seni yang menghadirkan keindahan. Meskipun banyak penonton yang tidak mengerti makna lirik tembang mamaca, setidaknya suara merdu Pak Yasin bisa menyuguhkan makna kedamaian.

Suasana panggung berubah menjadi rancak ketika lima penari perempuan membawakan tari remo gaya lelaki dengan iringan gamelan ludruk. Dengan lincah mereka melakukan gerakan-gerakan atraktif, mengelilingi panggung, menyapa penonton. Ratusan penonton menyalakan kamera handphone, merekam tari menyambut tamu yang merupakan representasi pengaruh budaya Arek yang berkembang di wilayah Tapal Kuda ini.

Tari gambyong oleh para penari muda dari Sanggar Sotalisa menjadikan malam di kaki Gunung Watangan semakin hangat. Dengan gemulai, para penari membuat penonton takjub, larut dalam gerakan tari dan musik. Tari gambyong yang berasal dari Surakarta menggambarkan Dewi Sri yang tengah menari, menghadirkan kesuburan bagi bumi. Makna tari ini sesuai dengan karakter masyarakat petani Lojejer yang banyak bergantung pada hasil bumi kawasan Watangan.

Baca Juga :   FESTIVAL BLUG GEBLUG, REGENERASI BUDAYA LOKAL BERDIMENSI DAKWAH

Para guru PAUD-TK tidak mau ketinggalan. Mereka mempersembahkan sendratari Roro Jonggrang – Bandung Bondowoso. Lakon ini sangat terkenal, sehingga penonton memberi sambutan meriah. Pilihan lakon tersebut sesuai dengan profesi mereka sebagai guru yang harus mengajarkan nilai-nilai moral seperti setia kepada janji dan tidak rakus.

Kehadiran tari can macanan kaduk dan burung garuda dari tradisi Madura selain menghibur juga menawarkan wacana tentang kehendak untuk berkuasa yang terlalu rakus bisa menimbulkan masalah. Can macanan kaduk yang ingin menguasai lahan perkebunan bertindak sewenang-wenang. Untuk mengendalikannya, datanglah burung garuda sebagai simbol nilai-nilai kebajikan.

Demikian pula untuk mengalahkan kerakusan dan kesewenang-wenangan para penari leak, datanglah seorang pertapa yang dengan kepandaiannya bisa mengeluarkan mereka dari wilayah yang ingin dikuasai. Ini juga mengingatkan kepada para warga agar tidak gegabah dalam menggarap lahan di kawasan hutan agar tidak terjadi bencana.

Seolah menjadi alternatif untuk mengendalikan nafsu rakus manusia, tari jaripah menyuguhkan gerakan-gerakan rancak khas Using yang bermakna agar manusia selalu mengingat Tuhan. Dengan tarian rancak, para penari dari UKM Kesenian UNEJ mengajak penonton untuk bergembira dalam hidup tetapi selalu merawat spiritualitas dan mengembangkan pengetahuan.

Baca Juga :   Keris Brojol Interpretasi Filosofi Gambaran Sederhana Sosok Pemimpin

Ketika manusia sudah mampu mengendalikan kerakusan dengan spiritualitas dan tindakan kreatif, mereka akan menemukan banyak keindahan dan kebahagiaan seperti yang disajikan oleh para penari Lenggang Jemberan. Perpaduan gerak dan musik Jawa – Madura menawarkan sifat terbuka dan dinamis tanpa meninggalkan karakter etnis asal sebagai ciri masyarakat diasporik.

Pertunjukan reyog menutup seluruh rangkaian pertunjukan. Atraksi para jathil, warog, Prabu Kelono Suwandono, bujang ganong, dan dadak merak benar-benar memukau warga desa yang baru pertama kali menonton suguhan dari Paguyuban Reyog Mahasiswa Sardulo Anurogo UNEJ.

Dihadirkannya ragam kesenian berbasis etnis Madura, Jawa Mataraman, Panaragan, Bali, dan Using dalam pertunjukan memang memiliki maksud tertentu terkait keragaman budaya dari masyarakat Jember dan Tapal Kuda.

“Panitia di Lojejer berhasil menghadirkan sajian yang menegaskan keragaman budaya sebagai karakter Tapal Kuda.  Rajutan keragaman budaya tersebut merupakan penguat keindonesiaan. Para pelaku budaya dan masyarakat Tapal Kuda mampu melakukan regenerasi dan menjadikan ragam budaya sebagai energi terbarukan untuk kebangsaan. Malam ini, Lojejer disaksikan Gunung Watangan mengirimkan pesan tersebut ke masyarakat Jawa Timur dan bangsa Indonesia,” ujar Ikwan Setiawan, Koordinator Pusakajaya UNEJ yang juga menjadi kurator GGBTK.

Ikuti update berita terbaru di Google News sinar.co.id


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page