Scroll untuk membaca artikel
Nasional

Nobar PWI Bondowoso: Film Dokumenter “Pesta 3461” Bongkar Intimidasi Aparat terhadap Rakyat Kecil

Redaksi
329
×

Nobar PWI Bondowoso: Film Dokumenter “Pesta 3461” Bongkar Intimidasi Aparat terhadap Rakyat Kecil

Sebarkan artikel ini
pesta
red

Bondowoso, sinar.co.id,- Ruang diskusi publik kembali hidup di Kabupaten Bondowoso. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bondowoso menggelar nonton bareng (nobar) film Pesta Babi pada Senin malam, 11 Mei 2026, yang tak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memantik refleksi keras tentang relasi kuasa, intimidasi aparat bersenjata, dan nasib masyarakat kecil di tengah konflik sosial.

Sejak awal pemutaran, film Pesta Babi langsung membawa penonton masuk ke atmosfer desa terpencil yang dipenuhi rasa takut. Warga hidup dalam tekanan, kecurigaan, dan ancaman kekerasan yang datang bersamaan dengan operasi keamanan bersenjata. Pesta rakyat yang semestinya menjadi simbol kebersamaan perlahan berubah menjadi tragedi dan ruang duka.

Film ini menggambarkan bagaimana masyarakat sipil berada di posisi paling rentan ketika kekuasaan tampil dengan wajah represif. Tuduhan tanpa kepastian, operasi keamanan yang menebar teror psikologis, hingga suasana mencekam akibat intimidasi aparat menjadi benang merah yang terus menghantui alur cerita.

Baca Juga :   Isteri Gus Dur, Nyatakan Bondowoso Tidak Ada Kemajuan

Tokoh utama dalam film diceritakan sebagai warga biasa di Papua yang hanya ingin menjaga keluarganya tetap hidup di tengah situasi kacau. Namun ketakutan yang menyebar membuat hubungan antarwarga retak. Tetangga saling curiga, suara-suara kritis dibungkam, dan kampung yang awalnya hangat berubah menjadi ruang penuh trauma.

Bagi banyak peserta nobar, film tersebut terasa seperti tamparan sosial. Beberapa adegan dinilai begitu dekat dengan realitas kehidupan masyarakat di daerah konflik maupun wilayah yang pernah mengalami pendekatan keamanan berlebihan.

Disampaikan Ketua PWI Bondowoso, Sinca Ari Pangestu, kegiatan nobar sengaja dihadirkan untuk membuka ruang berpikir kritis di tengah masyarakat. Menurutnya, film dapat menjadi medium penting untuk membaca realitas sosial secara lebih jujur dan manusiawi.

“Film bukan hanya hiburan. Ada pesan, kritik, dan refleksi yang bisa dibicarakan bersama. Dari sini masyarakat bisa melihat bagaimana kekuasaan, ketakutan, dan kebebasan berekspresi saling berkaitan,” ujarnya.

Baca Juga :   Bapenda Bondowoso Tambah Potensi PAD dari Sektor Peternakan

Suasana Pemutaran Film Dokumenter Pesta B4b1

Sepanjang pemutaran berlangsung, suasana ruangan beberapa kali hening. Penonton tampak serius mengikuti setiap adegan yang memperlihatkan ketegangan antara masyarakat sipil dan aparat bersenjata. Diskusi spontan bahkan muncul ketika film menampilkan tindakan represif yang dianggap mencederai rasa kemanusiaan.

Bagi kalangan jurnalis yang hadir, Pesta Babi menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi dan keberanian menyampaikan fakta tidak pernah lahir dari ruang yang nyaman. Ketika rasa takut dipelihara, kritik mudah dianggap ancaman, sementara rakyat kecil menjadi pihak yang paling sering menanggung akibatnya.

Salah satu peserta nobar menyebut film tersebut berhasil menyampaikan kritik sosial secara berani tanpa kehilangan sisi artistik dan emosionalnya.

Baca Juga :   Gus Khozin Desak Menteri ATR Nusron Wahid Tuntaskan Konflik Agraria: “Rakyat Selalu Kalah!”

“Yang paling terasa itu bagaimana masyarakat dibuat takut. Aparat hadir bukan sebagai pelindung, tapi justru menjadi simbol tekanan. Film ini gelap, emosional, dan menyakitkan,” katanya.

pesta

Melalui nobar tersebut, PWI Bondowoso mencoba menunjukkan bahwa film bisa menjadi ruang dialog alternatif untuk membahas persoalan sosial yang sering kali sulit dibicarakan secara terbuka. Di tengah situasi masyarakat yang semakin sensitif terhadap kritik, ruang-ruang diskusi kreatif seperti ini dinilai penting untuk menjaga nalar publik tetap hidup.

Acara kemudian ditutup dengan diskusi ringan dan sesi foto bersama. Meski berlangsung sederhana, nobar Pesta Babi meninggalkan pertanyaan besar bagi para peserta: ketika ketakutan diproduksi oleh kekuasaan, masihkah rakyat kecil memiliki ruang untuk bersuara?

https://www.tiktok.com/@sinar.co.id/

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp