Scroll untuk membaca artikel
Lainnya

Mahasiswa UB Buat Lampu Penanda Gempa Bumi

Redaksi
845
×

Mahasiswa UB Buat Lampu Penanda Gempa Bumi

Sebarkan artikel ini
Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya berhasil menciptakan lampu siaga gempa atau Laga Gempa.

Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya berhasil menciptakan lampu siaga gempa atau Laga Gempa.

Malang Raya, Sinar.co.id – Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya berhasil menciptakan lampu siaga gempa atau Laga Gempa.

Lampu ini, dapat digunakan sebagai alat peringatan dini otomatis di daerah rawan gempa bumi.

Menurut Ketua Tim Inovasi Laga Gempa, Yusuf Yuaniar, lampu tersebut dapat membantu masyarakat untuk segera mengetahui gempa bumi yang terjadi dan melakukan upaya penyelamatan.

Dengan warna putih hangat dan bentuk prisma trapesium, Laga Gempa menggunakan baterai Li-ion 18650 yang dapat diisi ulang dayanya sehingga dapat menghemat biaya.

Baca Juga :   Legislator desak DKI Evaluasi Desain Sekolah Antisipasi Siswa Jatuh

Dengan daya 13.000 mAh, alat ini mampu bertahan seharian penuh dan dapat diisi ulang dayanya dalam waktu delapan jam.

Laga Gempa telah diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Alat ini juga telah mendapatkan pendanaan dari kementerian dan saat ini dalam tahap pemasaran ke instansi pendidikan, rumah kos, dan daerah rawan gempa bumi.

Baca Juga :   KAI Divre II Sumbar Uji Coba Kencangkan Pariaman Ekspres

Laga Gempa sudah digunakan di Malang, Cianjur, Yogyakarta, Aceh dan Probolinggo.

Alat ini dibanderol dengan harga Rp400 ribu untuk satu lampu.

Keunggulan yang dimiliki alat ini adalah dapat mendeteksi gempa bumi mulai dari getaran rendah, menengah, hingga tinggi, disertai bunyi alarm yang berbeda-beda.

Tim Inovasi Laga Gempa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya meliputi Yusuf Yuaniar, Cyril Wahyu Dwi Anugrah (Teknik Elektro), M. Fajar Arif (Teknik Elektro), dan Deca Melani (Perencanaan Wilayah dan Kota).

Baca Juga :   Transisi Hujan Diperkirakan November 2023 Hingga Awal Tahun 2024 Paska El Nino

Kini, alat ini telah dipasarkan melalui freelancer di Aceh, Yogyakarta, Lombok, Bogor, Probolinggo, Malang dan sekitarnya dengan preorder.

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp