Scroll untuk membaca artikel
Kesehatan

Puskesmas Jambesari Diguyur Penghargaan, Strategi Jemput Kasus Penyakit Menular Jadi Kunci

Redaksi
728
×

Puskesmas Jambesari Diguyur Penghargaan, Strategi Jemput Kasus Penyakit Menular Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
jambesari

Bondowoso, sinar.co.id,- Upaya Puskesmas Jambesari, Kabupaten Bondowoso, dalam memperkuat deteksi penyakit menular membuahkan penghargaan. Capaian tersebut menjadi salah satu apresiasi dalam Rapat Koordinasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Rakor P2P) yang diikuti seluruh puskesmas se-Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Grand Padis Bondowoso, Rabu (16/9/2026).

Kepala Puskesmas Jambesari, drg. Noeri Rustianti, menyebut penghargaan tersebut tidak lepas dari kolaborasi seluruh jajaran puskesmas. Menurutnya, capaian program merupakan hasil kerja bersama para penanggung jawab hingga pelaksana program di lapangan.

“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh penanggung jawab program dan seluruh pelaksana program di Puskesmas Jambesari. Atas kerja keras dan kerja cerdasnya sehingga bisa memberikan prestasi, khususnya dalam penemuan penyakit menular sesuai standar,” ujar Noeri.

Ia menjelaskan, penemuan penyakit menular sesuai standar merupakan bagian dari pelayanan pengendalian penyakit menular yang memiliki landasan regulasi serta berkaitan dengan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Langkah Pasif dan Aktif Jadi Langkah Puskesmas Jambesari

Untuk mencapai target tersebut, Puskesmas Jambesari tidak hanya menunggu masyarakat datang berobat. Penemuan kasus dilakukan melalui dua pendekatan, yakni secara pasif dan aktif.

Baca Juga :   Menu “Ayam Crispy Berkokok” Warnai MBG Bondowoso, 90 Persen Bahan Disuplai Lokal

Pada pendekatan pasif, petugas melakukan skrining terhadap pasien yang datang ke puskesmas. Pemeriksaan dilanjutkan dengan proses diagnosis dan penanganan sesuai kondisi pasien.

“Kalau pasien datang ke puskesmas, kemudian kita lakukan screening, pemeriksaan, dan pengobatan lanjutan,” jelasnya.

Sementara pada penemuan aktif, petugas bergerak langsung ke tengah masyarakat. Salah satu caranya melalui investigasi kontak dan tracing ketika ditemukan kasus penyakit menular.

Satu Kasus TB, Petugas Bergerak Periksa Kontak

Penanganan tuberkulosis (TB) menjadi salah satu gambaran bagaimana strategi tersebut dijalankan.

Ketika seorang pasien dinyatakan menderita TB, petugas tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien. Orang-orang yang memiliki kontak erat juga menjadi sasaran pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan adanya penularan.

“Ketika ada yang menderita penyakit TB, kita melakukan investigasi kontak kepada kontak erat di wilayah tersebut,” kata Noeri.

Menurutnya, semakin luas jangkauan penjaringan, semakin terbuka pula peluang petugas menemukan kasus yang sebelumnya belum teridentifikasi.

Baca Juga :   Skrining Dinkes Magetan 2023 Deteksi Dini Penyakit TBC

Setelah seseorang terindikasi mengalami penyakit menular, proses penanganan dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan klinis dan laboratorium menjadi bagian penting sebelum pasien memperoleh penatalaksanaan sesuai diagnosis dan kondisinya.

Puskesmas Jambesari bahkan memiliki fasilitas Tes Cepat Molekuler (TCM) yang dapat dimanfaatkan untuk pemeriksaan TB. Keberadaan fasilitas tersebut membuat pemeriksaan dapat dilakukan di tingkat puskesmas tanpa harus langsung merujuk pasien ke fasilitas kesehatan lain.

“Untuk penyakit TB kita memiliki alat TCM. Jadi pemeriksaannya bisa langsung dilakukan di puskesmas tanpa harus merujuk ke fasilitas lain,” ungkap Noeri.

Layanan HIV Juga Diperkuat

Selain TB, Puskesmas Jambesari juga menyediakan pelayanan yang berkaitan dengan HIV. Ketersediaan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pemeriksaan dan penanganan penyakit menular bagi masyarakat di wilayah kerja puskesmas.

Noeri menyebut TB dan HIV termasuk penyakit menular yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan program. Kasus yang ditemukan berasal dari berbagai kelompok umur, termasuk masyarakat usia produktif.

Baca Juga :   Seleksi 11 JPT Pratama Bondowoso, Ditegaskan Bebas Intervensi

Rentang usia pasien yang ditemukan antara lain sekitar 18 hingga 45 tahun, meski kasus juga dapat ditemukan pada usia hingga sekitar 50 tahun.

Bagi Puskesmas Jambesari, menemukan satu kasus bukanlah akhir dari proses pelayanan. Justru dari satu kasus tersebut, petugas dapat menelusuri kemungkinan penularan di lingkungan sekitar melalui investigasi kontak.

Keluarga maupun orang-orang yang berada di lingkungan terdekat pasien menjadi bagian dari penelusuran tersebut.

“Karena penyakit menular dalam satu komunitas, perlu kita lakukan investigasi,” pungkas Noeri.

Penghargaan dalam Rakor P2P tersebut sekaligus menjadi catatan atas kerja lapangan Puskesmas Jambesari dalam memperkuat deteksi penyakit menular. Pendekatan pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang dipadukan dengan penemuan kasus secara aktif menjadi bagian dari strategi untuk menemukan kasus lebih dini dan memutus potensi penularan di masyarakat.

 

https://www.tiktok.com/@sinar.co.id

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp