Bondowoso, sinar.co.id,- Perum Perhutani KPH Bondowoso menegaskan komitmennya mendukung misi menghijaukan Bondowoso🏷️ melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat desa.
Hal itu disampaikan Administratur (ADM) Perum Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, usai realisasi penanaman 2.000 bibit pohon🏷️ di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Kamis (22/1/2026).
Menurut Misbakhul, Perhutani terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam gerakan reboisasi. Pihak pemohon cukup mengajukan surat permohonan, yang akan ditindaklanjuti sesuai ketersediaan bibit.
“Di awal tahun 2026 ini, kami sudah menyalurkan sekitar 5.000 bibit, terdiri dari tanaman buah seperti durian, pete, dan alpukat serta, tanaman kehutanan seperti pinus dan mahoni,” ujarnya.
Langkah ini sejalan dengan dorongan Ketua DPRD🏷️ Bondowoso, Ahmad Dhafir, yang sebelumnya meminta para Camat berkolaborasi🏷️ dengan Perhutani untuk reboisasi sekaligus mitigasi bencana, khususnya camat yang memiliki wilayah lereng gunung.
Misbakhul menekankan, penghijauan tidak hanya menyasar kawasan hutan, tetapi juga lokasi-lokasi strategis di desa. Ia menilai, antusiasme masyarakat lebih tinggi jika bibit yang ditanam memiliki nilai ekonomi.
“Tanaman buah selain menjaga ekologi juga meningkatkan kesejahteraan warga. Secara ekologis berfungsi mencegah banjir dan longsor, sekaligus menjadi daerah tangkapan air,” jelasnya.
Ia menambahkan, Perhutani membedakan skema bantuan bibit berdasarkan lokasi tanam. Untuk penanaman di dalam kawasan hutan, akan ada perjanjian kerja sama karena terdapat potensi hasil. Sementara di luar kawasan hutan, bantuan bibit diberikan secara murni tanpa ikatan.
“Prinsipnya sederhana: kecil menanam, dewasa memanen. Tidak perlu menunggu tua. Pete dan alpukat ditanam sekarang, sekitar tiga tahun sudah bisa berbuah,” kata Misbakhul.
Perhutani Buka Peluang Pemanfaatan Bawah Tegakan Hutan
Tak hanya itu, kawasan di bawah tegakan hutan juga dapat dimanfaatkan melalui sistem agroforestri. Selain jahe dan tanaman semusim lainnya, komoditas yang paling berkembang di Bondowoso adalah kopi.
“Masyarakat menanam kopi, kami titipkan kayu agar tetap hidup. Ini simbiosis—hutan lestari, ekonomi rakyat bergerak,” pungkasnya.
Perhutani pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga hutan bersama dengan “sedekah oksigen”, yakni menanam pohon kehutanan maupun buah-buahan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.












