Jakarta, sinar.co.id,- Pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan nasional paling dihormati di Indonesia, dikenal tidak hanya sebagai pemimpin Perang Jawa yang legendaris tetapi juga, sebagai tokoh yang begitu lekat dengan pusaka keris🏷️.
Hubungan erat antara Diponegoro dan keris ini diungkapkan oleh Agung Sedayu, Koordinator Grup Belajar Seni Tosan Aji Nusantara (Besi Berharga Nusantara) yang berbasis di Jakarta.
Menurut Agung Sedayu, hampir di setiap lukisan atau penggambaran visual tentang Pangeran Diponegoro, sosoknya selalu ditampilkan dengan keris terselip di pinggang🏷️.
“Cerita tentang keris milik Diponegoro bukan hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga menyebar hingga ke mancanegara, termasuk Belanda,” ungkapnya.
Keris Pangeran Diponegoro bahkan sempat menjadi sorotan publik ketika pemerintah Belanda mengembalikan sebuah keris yang diakui sebagai milik sang pangeran.
Namun, pengembalian ini memicu kontroversi di kalangan komunitas pekerisan terkait keaslian pusaka tersebut.
“Bagi kami, bukan soal kontroversinya yang penting, melainkan bagaimana hal ini menunjukkan betapa Diponegoro dan keris begitu dekat di hati masyarakat,” jelas Agung.
Pangeran Diponegoro bukanlah sosok biasa
Ia adalah pemimpin besar yang memimpin Perang Jawa (1825–1830), salah satu perang paling berat yang pernah dihadapi VOC di Nusantara.
Perang ini menjadi simbol perlawanan gigih rakyat Jawa terhadap penjajahan, dan dalam setiap langkah perjuangannya, keris hadir sebagai lambang keberanian, kehormatan, dan perlawanan.
Agung menambahkan bahwa keris-keris yang dibuat pada era Diponegoro memiliki ciri khas tersendiri. Selain memancarkan nilai seni tinggi, pusaka tersebut juga mencerminkan filosofi perjuangan sang pangeran.
“Empu di masa itu menciptakan keris dengan penuh perhitungan, baik dari sisi pamor, bentuk, maupun tuahnya. Keris bukan sekadar senjata, tapi juga simbol spiritual dan identitas,” terangnya.
Menariknya, jejak sejarah ini tidak berhenti di masa lalu. Penerus para empu pembuat keris yang dahulu berkarya untuk Diponegoro masih ada hingga kini, salah satunya di wilayah Magetan, Jawa Timur.
Mereka terus menjaga tradisi dan teknik pembuatan keris yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Keberadaan para empu ini menjadi pengingat bahwa keris adalah bagian dari warisan budaya bangsa yang tak ternilai. Selama masih ada yang menjaga dan merawatnya, semangat Diponegoro akan selalu hidup,” tutup Agung Sedayu.












