Bondowoso, sinar.co.id,- Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Bondowoso dituntut membenahi pola pembinaan qari, qariah, hafiz, dan hafizah agar lebih terarah dan berkelanjutan. Potensi generasi Qur’ani tidak boleh hanya diandalkan ketika kompetisi sudah dekat.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Musyawarah Daerah (Musda) LPTQ Bondowoso yang digelar di lingkungan Pemkab Bondowoso, Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 250 orang itu menjadi momentum penataan kepengurusan, penguatan pembinaan, serta evaluasi tata kelola organisasi.
Integrasi LPTQ
Selama ini, pembinaan disebut masih banyak berjalan secara individual dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam program kelembagaan LPTQ. Karena itu, diperlukan sistem pembinaan yang konsisten, mulai dari penjaringan bakat, pendampingan, hingga persiapan menghadapi kompetisi tingkat provinsi dan nasional.
Potensi peserta yang pernah berprestasi juga perlu dipetakan dan dikembangkan secara sistematis. Dengan begitu, keberhasilan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi turut didukung program organisasi yang berkesinambungan.
Kepengurusan dan Anggaran Jadi Perhatian
Dalam penataan struktur, Sekretaris Daerah ditetapkan sebagai Ketua Umum LPTQ secara ex-officio. Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.HI., menjabat Ketua I secara ex-officio.
Ketua II berasal dari unsur bidang kesejahteraan rakyat (Kesra), sedangkan Ketua III diperuntukkan bagi unsur praktisi, yang dapat berasal dari Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz (JQH).
Selain penguatan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan, transparansi penggunaan dana hibah dari pemerintah daerah juga menjadi perhatian. Pengelolaan anggaran diharapkan benar-benar mendukung pembinaan dan peningkatan kualitas peserta.
LPTQ Bondowoso juga memindahkan sekretariat dari Santawi ke lantai dua Gedung Perinda, kompleks Kantor Bupati Bondowoso, guna mendukung koordinasi dan administrasi organisasi.
Hasil Musda Harus Dibuktikan
Musda tidak cukup hanya menghasilkan susunan kepengurusan dan program kerja. LPTQ dituntut membuktikan komitmennya melalui pembinaan yang terukur, pendampingan rutin, serta evaluasi berkala.
Jangan sampai qari dan qariah baru dicari menjelang lomba, sementara pembinaan yang seharusnya menjadi fondasi justru terabaikan.
Dengan dukungan pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan seluruh unsur terkait, LPTQ diharapkan mampu mengoptimalkan potensi generasi Qur’ani serta meningkatkan prestasi Bondowoso di tingkat provinsi hingga nasional.












