Scroll untuk membaca artikel
ArtikelDaerahSejarah

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

150
×

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

Sebarkan artikel ini
Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

 

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya ini, mungkin bisa menjadi tauladan bagi generasi saat ini.

Bondowoso, Sinar.co.id –

Dalam kisah asmara Kyai Togo Ambarsari ini, tergambar meski cinta yang diperjuangkan dengan berat dan dijalani dengan ikhlas akan berbuah pelaminan sampai akhir hayat.

Nah, mungkin kita langsung saja pada awal kisanya.

Julukan Nama Karomah Kyai Togo Ambarsari merupakan amanah dari gurunya Kyai Hasan Genggong.

Nama tersebut didapat saat akan menjalani bahtera rumah tangga dengan pujaan hatinya Nyai Yahyana binti Ahmad.

Al-kisah, sosok Kyai Togo kala muda bernama Maddra’i atau Sariman, yang merupakan alumnus pondok pesantren Genggong.

Beliau, memulai kiprah dakwahnya di masyarakat setelah mempersunting Nyai Yahyana bin Ahmad.

Baca Juga: Haul 25 Kyai Togo Ambarsari Jadikan Tauladan Kebijakan

Nyai Yahyana sendiri merupakaan keturunan bujuk Reduh dari nasab ibunya.

Bujuk Reduh, memiliki empat orang keturunan yakni, pertama Sajiyah, putra kedua Trawih, anak ketiga, Rufi dan anak ke empat, Sardiyan.

Baca Juga :   Masyarakat Bersatu dalam Kerja Bakti Rawat Monumen Pahlawan Bura

Dari Sardiyan inilah lahir Nyai Safinah ibunda dari Yahyana.

Dikisahkan, saat Sariman / Kyai Togo melamar Nyai Yahyana, dirinya diminta syarat pernikahan yang cukup berat.

Oleh calon mertuanya disyaratkan dengan maskawin menghatamkan Al-Quran selama 7 hari.

Singkat cerita, setelah sampai 7 hari menghatamkan Al-Quran.

Kyai Togo mengabarkan kepada sang calon mertuanya bahwa, ia telah menunaikan syarat.

Akan tetapi, Ahmad, sang calon mertua, kurang begitu puas atas capaian dari calon menantunya tersebut.

Ahmad menganggap waktu seminggu, terlalu lama dalam menghatamkan Al-Quran.

Kisah Cinta Kyai Togo Ambarsari dan Perjuangannya

Sehingga, Sariman muda kala itu, diberikan syarat dan menyuruhnya lagi dengan menghatamkan Al-Quran selama tiga hari.

Setelah tiga hari kemudian, calon mantu yang tak putus asa ini, menghadap kembali pada sang calon mertua.

Kali ini, untuk menyatakan kembali telah hatam al-Qur’an dalam jangka waktu tiga hari.

Baca Juga :   BPJS Tenaga Kerja Optimalkan Jaminan Kesejahteraan Guru Ngaji Bondowoso

Lagi-lagi sepertinya sang calon mertua masih kurang puas dengan capaian calon menantunya ini.

Wal hasil, Sariman diberikan beban untuk menghatamkan Alquran lagi dengan jeda waktu hanya satu hari.

Ini demi sang pujaan hati dan niat ibadah menyelesaikan separuh agama dengan menikah.

Sariman pun melaksanakan hingga berhasil menghatam al quran dalam waktu satu hari.

Bayangkan saja jika syarat ini terjadi diera hip hop saat ini, pasti deh akan banyak perawan tua he heee… bercanda kok biar gak fhusiiiing.

Singkat cerita, setelah menghatam Al-Quran satu hari, keesokan harinya, Sariman menghadap kembali pada calon mertuanya.

Dengan niat yang sama seperti kemarin Sariman kembali mencoba keberuntungan dengan niat yang sama.

Cinta Kyai Togo Ambarsari

Setelah Kyai Togo dianggap memenuhi syarat untuk mempersunting Nyai Yahyana, Ahmad menerima Kyai Togo sebagai menantunya.

Baca Juga :   Sidak Kelangkaan Gaz Melon, PJ Sekda Bondowoso Sempat Mis Komunikasi Dengan Agen

“Rupanya kekeh juga calon menantuku ini, boleh lah,” (kata mertua era hip hop ?)

Namun demikian, Ahmad, sang mertua tidak lantas dengan mudahnya menikahkan dua insan tersebut.

Untuk meyakinkan dirinya bahwa, Sariman sebagai satu-satunya calon menantu pilihannya.

Sariman pun masih diajak sowan pada gurunya (kyai Hasan-Genggong) sebelum dinikahkan.

Sesampainya di tempat tujuan, Sariman dan mertuanya diterima oleh Kyai Hasan.

Namun, di sela-sela perbincangan, Sariman disuruh masuk dan membersihkan bilik dalem gurunya.

Setelah membersihkan ruangan, Kyai Togo kembali dan mendapatkan restu serta amanah nama dari Kyai Hasan.

Dalam dawuhnya, Kyai Hasan berkata kepada Sariman.

“Molaen satiah be’en enyama’nah Togo Ambarsari, be’en tonggunah Bendebesah”

(mulai sekarang kamu, saya namai Togo Ambarsari, kamu adalah tempat tonggak Bondowoso).

Hingga sejak saat itulah Sariman berganti nama Togo Ambarsari dan memulai kiprah dakwahnya di Bondowoso.

Ikuti update berita terbaru di Google News sinar.co.id


Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page