Bondowoso, sinar.co.id,- Alunan musik reggae menjadi warna terakhir sekaligus kejutan dalam penutupan FKN (Festival Kopi dan Tembakau Nusantara) ke-9 di Alun-alun RBA Ki Ronggo Bondowoso, Jumat malam (4/9/2026).
Bukan hanya musisi reggae yang tampil di atas panggung. Sejumlah pejabat daerah ikut mengambil bagian, termasuk Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bondowoso dan Komandan Kodim (Dandim) Bondowoso yang turut menyanyikan lagu reggae di hadapan ribuan penonton.
Suasana pun berubah menjadi pesta rakyat. Masyarakat, pelaku usaha kopi, hingga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tampak larut dalam irama reggae. Batas antara panggung dan penonton, bahkan antara pejabat dan masyarakat, seolah menghilang malam itu.
Dari bawah panggung, penonton bergoyang mengikuti dentuman musik. Sementara dari atas panggung, sejumlah pejabat tak canggung menunjukkan ekspresi santai dan ikut bernyanyi bersama musisi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi SP, MM, mengatakan FKN 9 selama delapan hari tidak hanya menyuguhkan hiburan musik, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan beragam ekspresi budaya.
“Selama delapan hari banyak hiburan yang kami tampilkan. Ada puluhan seni dan kebudayaan lokal, tradisi, religi, kemudian hadir Neo Letto, dan malam ini kami tutup dengan musik reggae,” ujar Mulyadi.
Reggae Bawa Suasana Cair dan Damai
Menurutnya, pemilihan reggae sebagai sajian pamungkas bukan sekadar persoalan hiburan. Musik tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa kebudayaan dapat menjadi medium untuk membangun suasana yang lebih cair dan damai di tengah masyarakat.
Ia menyebut perpaduan kultur budaya lokal dengan musik reggae menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus menjadi pembatas untuk menikmati sebuah pertunjukan.
“Ini perpaduan kultur budaya lokal dan musik reggae. Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa kultur budaya dan musik reggae juga bisa menghadirkan nuansa perdamaian,” katanya.
Pemandangan di Alun-alun RBA Ki Ronggo malam itu menjadi gambaran sederhana dari pesan tersebut. Pejabat dan masyarakat yang biasanya berada dalam ruang sosial berbeda, malam itu menikmati musik dalam suasana yang sama.
“Terbukti malam hari ini, baik pejabat maupun masyarakat dapat membaur menjadi satu kesatuan tanpa sekat saat menikmati musik reggae,” imbuhnya.
Delapan hari pelaksanaan FKN IX akhirnya ditutup dengan suasana yang jauh dari kesan formal. Jika rangkaian festival sebelumnya banyak menampilkan kekayaan tradisi, seni, religi, serta komoditas unggulan Bondowoso, maka reggae menjadi nada terakhir yang menyatukan semuanya dalam satu ruang.
Dan malam itu, bahasa yang digunakan bukan lagi jabatan, status, ataupun latar belakang. Cukup musik, kebersamaan, dan suasana yang—meminjam istilah anak muda—”biar uye.”












