Bondowoso, sinar.co.id,- Kabar penyesuaian jumlah karyawan dan pengurangan biaya operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai menghantui para pekerja di Kabupaten Bondowoso. Meski kebijakan tersebut belum diterapkan di seluruh SPPG setempat, isu pengurangan tenaga kerja sudah lebih dulu memicu keresahan.
Budi, salah seorang karyawan SPPG di Bondowoso, mengaku dirinya bersama sejumlah rekan kerja mulai diliputi kecemasan. Mereka khawatir kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut berujung pada pengurangan karyawan hingga pemutusan mata pencaharian.
“Kami ketar-ketir memikirkan siapa-siapa yang akan dirumahkan,” ungkap Budi.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar kabar perubahan aturan. Ketidakpastian nasib pekerjaan bahkan mulai memicu kegaduhan di kalangan sesama karyawan. Mereka kini dihantui pertanyaan besar tentang siapa yang masih dipertahankan dan siapa yang harus kehilangan pekerjaan.
Budi bersama rekan-rekannya berharap BGN mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut. Sebab, pekerjaan di SPPG telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang yang menggantungkan ekonomi keluarganya dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tekhnis Pengurangan Karyawan
Sementara itu, dilansir CNN, berdasarkan petunjuk teknis terbaru, jumlah relawan SPPG disesuaikan dengan kapasitas penerima manfaat. Dapur yang melayani 1.000–1.499 penerima membutuhkan 15–24 relawan, sedangkan kapasitas 1.500–1.999 membutuhkan 24–33 orang.
Untuk kapasitas 2.000–2.499 penerima dibutuhkan 33–42 relawan, 2.500–2.999 sebanyak 42–47 orang, sementara dapur dengan 3.000 penerima manfaat atau lebih dibatasi maksimal 47 relawan.
BGN menyebut penyesuaian tersebut bertujuan mengendalikan anggaran negara sekaligus menyesuaikan jumlah tenaga kerja dengan kebutuhan produksi makanan. Namun, kebijakan ini menuai keluhan karena berpotensi mengubah jam kerja, hari libur, hingga mengurangi jumlah pekerja.
Di tengah tujuan efisiensi anggaran, muncul persoalan lain yang tak kalah penting: nasib para pekerja yang selama ini menjadi bagian dari operasional program MBG.
Bagi mereka, SPPG bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber penghidupan. Kini, sebelum kebijakan itu benar-benar diterapkan di Bondowoso, kecemasan kehilangan pekerjaan justru sudah lebih dulu terasa.












