Jember, sinar.co.id,- Organisasi sosial-spiritual Yakuza Maneges resmi membuka cabang di Kabupaten Jember. Deklarasi kepengurusan berlangsung di Pendopo Wahyawibawagraha, Minggu (2/8/2026) malam, dihadiri Pendiri Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, Bupati Jember, Forkopimda, kepala OPD, tokoh agama, ormas, LSM, dan insan pers.
Yakuza Jember Bukan Wadah Tanpa Arah
Ketua Yakuza Wilayah Jember Eko Mulyadi menegaskan, organisasi ini bukan panggung gaya atau wadah tanpa arah. “Kami hadir sebagai kawah candradimuka pembinaan jiwa dan ladang pengabdian nyata,” ujarnya.
Nama “Yakuza Maneges” sendiri membawa pesan kuat: Yakuza sebagai cermin masa lalu yang mungkin kelam, Maneges sebagai pasrah total kepada Tuhan. Pesannya sederhana—tidak ada yang terlambat untuk berubah.
Yakuza Maneges secara khusus membuka pintu bagi mereka yang kerap disebut “santri jalur kiri”: orang-orang yang pernah tersesat di jalanan, namun ingin kembali memberi manfaat. Gerakan ini menyerap falsafah dakwah Gus Miek yang merangkul kaum marjinal dan kelompok tersisih.
Tujuh prinsip menjadi pijakan kader: Kesatria, Militan, Profesional, Diam, Senyap, Eksekutif, dan Tanggung Jawab. Slogan “Gasss Tanpa Ampun” diartikan sebagai aksi cepat dan tegas untuk menolong yang lemah serta membenahi ketidakadilan, bukan kekerasan.
Organisasi ini mengedepankan restorative justice—memastikan pelaku bertanggung jawab langsung kepada korban, bukan langsung menempuh jalur pidana kaku—sambil tetap menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.
Yakuza Maneges menyatakan diri non-partisan dan membangun jejaring dengan TNI, Polri, lembaga negara, pengacara, ormas, LSM, serta media. Tujuh kode etik ketat juga dibacakan, termasuk larangan keras membawa nama organisasi untuk kepentingan pribadi, kriminal, politik, atau aksi demonstrasi.
Acara ditutup dengan doa bersama. Eko berharap dukungan berkelanjutan agar misi kemanusiaan ini terus berjalan di Jember: menjaga yang lemah, membela yang benar, dan membenahi yang salah—dengan diam namun berdampak nyata.












