Bondowoso, sinar.co.id,- Aroma manis tape Bondowoso yang selama puluhan tahun menjadi identitas Kabupaten kini perlahan menghilang. Bukan karena masyarakat tak lagi menyukai tape, melainkan karena para produsennya mulai tumbang satu per satu akibat mahalnya harga singkong dan minimnya perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM.
Di Kecamatan Binakal, salah satu sentra produksi tape terbesar di Bondowoso, jeritan para pengusaha tape kini berubah menjadi kisah pilu tentang gulung tikar, PHK tenaga kerja, hingga beralih profesi demi bertahan hidup.
Rahmatullah, koordinator pengusaha tape Kecamatan Binakal, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana usaha legendaris khas Bondowoso itu kini berada di ambang kepunahan. Ia mengaku terpaksa menghentikan produksi tape dan beralih menjadi penjual dawet kaki lima di pinggir jalan.
“Saya sudah tidak produksi tape karena bahan baku singkong mahal. Modal habis. Sistem pemasaran tape itu juga dititipkan dulu, setelah laku baru produsen dapat uang,” ungkapnya, Jumat (29/05/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada pasar. Tape Bondowoso masih memiliki pembeli setia hingga luar daerah seperti Madura, Bali, dan sejumlah wilayah lainnya. Namun lonjakan harga bahan baku membuat pelaku usaha tidak lagi mampu berputar modal.
Rahmatullah membeberkan, harga singkong saat ini mencapai sekitar Rp4 juta per ton. Jika total produksi tape di Kecamatan Binakal saja mencapai 60 ton per hari, maka uang yang harus berputar hanya untuk membeli singkong saja sudah menyentuh Rp240 juta per hari.
Itu belum termasuk biaya besek, daun pisang, tenaga kerja, distribusi, hingga biaya produksi lainnya.
Ironisnya, di tengah kondisi sulit tersebut, para pelaku UMKM merasa ditinggalkan.
“Pemerintah sekarang tidak ada perhatian sama sekali. Dulu saat masa Bupati Bondowoso Salwa Arifin, masih ada pelatihan, bantuan alat, bahkan pinjaman modal kerja sama dengan Bank Jatim. Sekarang tidak ada sama sekali alias nihil,” katanya.
Binakal, khususnya Desa Sumber Tengah dan Poler, selama ini dikenal sebagai basis terbesar pengusaha tape di Bondowoso. Sedikitnya ada sekitar 138 pelaku usaha tape yang menggantungkan hidup dari industri rumahan tersebut.
Namun kini, banyak di antara mereka memilih berhenti produksi sementara. Sebagian beralih usaha kecil-kecilan, sebagian lain terpaksa merumahkan pekerja.
Yang paling menyedihkan, dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik usaha.
Para pekerja tape — mulai pengupas singkong, pembungkus, pengangkut, hingga penjual — kini kehilangan sumber penghasilan. Banyak yang akhirnya menganggur karena industri tape yang selama ini menjadi denyut ekonomi desa mulai lumpuh.
Padahal, menurut Rahmatullah, yang dibutuhkan pelaku UMKM sebenarnya sederhana: akses permodalan, stabilitas bahan baku, dan dukungan perluasan lahan singkong.
“Kalau pemasaran, tape ini sebenarnya sudah punya pasar sendiri. Bahkan bisa berkembang ke nasional sampai internasional kalau serius dibantu,” ujarnya.
Tape Bondowoso di Ujung Tanduk
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Sebab selama ini tape bukan sekadar makanan khas, melainkan simbol ekonomi rakyat Bondowoso.
Jika sentra tape sampai benar-benar mati, maka yang hilang bukan hanya produk kuliner tradisional, tetapi juga mata pencaharian ribuan warga kecil.
Pertanyaannya sekarang, apakah pemerintah akan menunggu tape Bondowoso benar-benar punah dulu baru bergerak?
Ataukah jeritan para pelaku UMKM ini sekali lagi hanya akan menjadi suara yang tenggelam di tengah seremoni pembangunan dan pidato pemberdayaan ekonomi rakyat?
Sebab sejarah telah membuktikan, daerah yang membiarkan UMKM tradisionalnya mati perlahan sesungguhnya sedang membunuh identitas ekonominya sendiri.












