Bondowoso, sinar.co.id,– Metode pembayara QRIS terkesan dipaksakan ditengah rendahnya nilai Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) di Kabupaten Bondowoso.
IMDI Bondowoso
Diketahui, dari data BPSDM Kominfo, IMDI Bondowoso kerap menduduki peringkat buncit 4 dan 5 yang hal ini tergolong rendah dibandingkan 4 kabupaten lain di Bakorwil V yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember dan Lumajang (Sekar Kijang).
Namun demikian, pihak Bank Indonesia (BI) Jember tetap terkesan memaksakan program penerapan QRIS bahkan hingga ditingkat sekolah-sekolah dengan mengatakan optimis bisa.
Diketahui, untuk saat ini metode pembayaran menggunakan QRIS sudah diterapkan di salah satu SMAN dan SMKN di Bondowoso dengan tanpa mensosialisasikan sebelumnya kepada wali murid.
Disampaikan kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember, Gunawan, atas masih banyaknya ketidak tahuan masyarakat di Bondowoso menggunakan QRIS ini menjadi atensi untuk pihaknya secara intens melakukan sosialisasi.
“Pelan-pelan, ketidak tahuan murid dan masyarakat dalam menggunakan QRIS ini juga menjadi perhatian kami. Tenaga kami juga terbatas kalau semua. Jadi kita pelan-pelan memang untuk edukasi itu tidak bisa instan,” katanya usai acara Closing Ceremony Pekan QRIS Nasional 2025 di Alun-alun RBA Ki Ronggo pada Sabtu, (16/08/2025).
Menurut Gunawan, karena memang di Bondowoso sangat luas pihaknya akan bertahap dengan memulai dulu dari kalangan anak-anak di sekolah yang harapannya nanti, mereka bisa menjelaskan kepada keluarga di rumah tentang QRIS.
“Karena memang masih banyak wali murid yang belum menggunakan qris bukan karena tidak bisa melainkan belum faham dan belum tau bagaimana menggunakan qris. Kami ajari dulu putra putrinya,” ujarnya.
Sementara, dari data terhimpun, wali murid ataupun murid – murid di sekolah yang sudah menggunakan QRIS tidak mendapat sosialisasi apapun sebelumnya dan langsung diperintah menggunakan QRIS.
“Kami kaget, tiba-tiba uang sangunnya diminta untu ditransfer ke rekening. Jadi, ya mau tidak mau yang semula anak saya gak punya rekening harus buka rekening dulu untuk bisa transaksi di sekolahnya, dan yang biasa sangunya saya beri per hari, sekarang harus di transfer jadi se bulan, dengan nominal yang lebih banyak dari biasanya,” kata salah satu wali murid yang enggan disebut namanya.
Terpantau, meski dihadiri Bupati Bondowoso dan jajarannya serta ada juga beberapa pelaku UMKM yang memasarkan dagangannya, dalam gelaran Closing Ceremony Pekan QRIS Nasional 2025 di Alun-alun RBA Ki Ronggo kali ini, tampak sepi pengunjung.
“Dalam acara ini dagangan kami tidak laku satupun mas. Sepi,” kata salah satu pelaku UMKM yang menyuguhkan dagangannya dalam acara tersebut.












