Scroll untuk membaca artikel
Tradisional

Malam 10 Suro, Karangmelok Lestarikan Tradisi Jamasan Pusaka dan Ruwat Sengkala, Ratusan Pecinta Tosan Aji Hadir

Redaksi
732
×

Malam 10 Suro, Karangmelok Lestarikan Tradisi Jamasan Pusaka dan Ruwat Sengkala, Ratusan Pecinta Tosan Aji Hadir

Sebarkan artikel ini
suro
(dari kiri) Kepala KUA Kecamatan Tamanan, Nur Hadi, Kepala desa Karangmelol RB Mahfud dan Camat Tamanan Abd. Mufid berlatar Jamasan Pusaka (26/06)

Bondowoso, sinar.co.id,- Suasana sakral berpadu dengan semangat pelestarian budaya mewarnai peringatan malam 10 Suro 1960 Jawa atau 10 Muharram 1448 Hijriah di Desa Karangmelok, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Jumat malam (26/6/2026). Melalui tradisi Selamatan Desa, masyarakat menggelar prosesi jamasan pusaka dan ruwat sengkala yang diikuti ratusan pecinta tosan aji dari berbagai daerah.

Pusat Giat 10 Suro

Kegiatan 10 Suro yang dipusatkan di kediaman Kepala Desa Karangmelok tersebut menjadi magnet bagi pemerhati budaya dari berbagai organisasi se-Sekar Kijang. Sejumlah peserta bahkan datang dari luar Bondowoso, seperti Jember, Situbondo, Madura hingga Kudus.

Prosesi diawali dengan penjamasan ratusan pusaka, mulai dari keris hingga tombak, yang dilakukan para sesepuh desa menggunakan tata cara adat warisan leluhur. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan ruwat sengkala, yakni prosesi memandikan Kepala Desa menggunakan air (tirta) hasil jamasan pusaka sebagai simbol doa, harapan keselamatan, serta keberkahan bagi masyarakat dan desa.

Baca Juga :   Serap Aspirasi Seniman Jember, HPL dan DeKaJe Gelar Rembug Budaya

Kepala Desa Karangmelok, RB Mahfud, mengatakan tradisi tersebut merupakan agenda tahunan yang sengaja dipertahankan sebagai upaya menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Menurutnya, jamasan pusaka bukan sekadar ritual, tetapi menjadi sarana edukasi sekaligus motivasi bagi generasi muda agar mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya leluhur.

“Budaya ini harus terus hidup. Kalau kita ingin melestarikannya, maka yang pertama harus dilakukan adalah mencintainya. Tanpa rasa cinta, budaya tidak akan pernah lestari,” ujarnya.

Mahfud juga menepis anggapan bahwa pusaka identik dengan hal-hal mistis. Ia mengutip pandangan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa Islam hadir di Nusantara bukan untuk menghapus budaya, melainkan merawat budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Baca Juga :   Bupati Hamid Potong Tumpeng, Penanda Festival Muharram di Tiap Kecamatan

Menurutnya, keris dan pusaka merupakan peninggalan sejarah yang sarat nilai etika, filosofi, dan pendidikan karakter, sehingga layak dikenalkan kepada pelajar maupun generasi muda. Ia berharap ke depan pemerintah kecamatan hingga kabupaten dapat menggelar festival budaya secara lebih besar agar tradisi tersebut semakin dikenal masyarakat luas.

Apresiasi juga disampaikan Camat Tamanan, Abd. Mufid. Ia menilai kegiatan di Karangmelok menjadi embrio lahirnya gerakan pelestarian budaya di tingkat kecamatan.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal menumbuhkan bibit-bibit pecinta budaya Nusantara. Kami akan berdiskusi dengan desa-desa lain untuk menggelar agenda budaya bersama, sehingga masyarakat memahami bahwa keris adalah warisan leluhur yang harus dirawat, bukan semata dikaitkan dengan hal-hal mistis,” katanya.

Baca Juga :   Kontroversi 19 Hari Keris Nasional, Harusnya Pemerintah Tidak Seremoni Belaka

Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Tamanan, Nur Hadi, menyampaikan bahwa pelestarian budaya seperti jamasan pusaka dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan tidak mengubah akidah maupun keyakinan umat.

Menurutnya, masyarakat boleh melestarikan tradisi sebagai bagian dari warisan budaya selama pusaka dipandang sebagai benda bersejarah, bukan sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan di luar kehendak Tuhan.

Dengan kolaborasi pemerintah desa, unsur kecamatan, tokoh agama, dan para pegiat budaya, tradisi jamasan pusaka di Karangmelok tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ruang edukasi untuk memperkenalkan nilai-nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

https://www.tiktok.com/@sinar.co.id

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp