Bondowoso, sinar.co.id,- Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Falah, Desa Jeruk Soksok, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, saat ratusan santri, alumni, dan masyarakat berkumpul dalam peringatan haul ke-5 pendirinya, almarhum KH. Abdullah, Minggu (12/04/2026).
Lantunan doa dan dzikir menggema, menjadi pengikat rindu sekaligus penghormatan atas jasa seorang ulama kharismatik yang telah meletakkan fondasi keilmuan dan akhlaq di wilayah tersebut.

Dari Kesederhanaan Ponpes Nurul Falah, Lahir Cahaya Perjuangan
Perjalanan Pondok Pesantren Nurul Falah bermula sekitar tahun 1978, ketika KH. Abdullah pulang dari pengembaraan menuntut ilmu di Pesantren Nurul Jadid-Paiton serta sebelumnya menimba ilmu di pesantren asuhan KH. Mas Nor Cholil.
Dengan tekad kuat dan penuh keikhlasan, beliau merintis pondok dari nol di tanah kelahirannya. Bangunan sederhana yang awalnya berdiri, perlahan tumbuh menjadi pusat pendidikan Islam yang kini dikenal luas.
Nama “Nurul Falah” yang berarti cahaya kemenangan bukan sekadar simbol, melainkan doa dan harapan. Nama tersebut konon diberikan oleh gurunya, KH. Zaini Mun’im, agar para santri mampu meraih keberhasilan dunia dan akhirat.
Menanam Akhlaq, Membangun Generasi
Sejak awal, Nurul Falah tidak hanya berfokus pada pengajaran kitab kuning, tetapi juga pembentukan akhlaqul karimah. Nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan keikhlasan menjadi ruh pendidikan yang diwariskan.
Santri dididik untuk mandiri, menghormati guru, serta mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Dari pola pendidikan inilah, lahir banyak alumni yang kini berkiprah sebagai tokoh agama, pendidik, hingga pemimpin masyarakat.
Estafet Kepemimpinan Nurul Falah yang Tetap Berakar
Sepeninggal KH. Abdullah, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh generasi penerus yang masih dalam lingkar keluarga dan alumni. Mereka berupaya menjaga nilai-nilai salaf sekaligus melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Fokus pendidikan tetap diarahkan pada penguatan tafaqquh fiddin, pembinaan akhlaq, serta pengembangan kemandirian santri—sebuah kombinasi antara tradisi dan kebutuhan modern.
Haul sebagai Momentum Refleksi
Dalam tausiyah yang disampaikan oleh para muballigh, di antaranya KH. Moh. Hasan Abdul Mu’iz dan KH. Mas Harist, ditekankan bahwa haul bukan sekadar tradisi tahunan.
“Menjaga warisan kiai bukan hanya dengan mengenang, tetapi dengan melanjutkan perjuangan beliau,” pesan yang menguat dalam kegiatan tersebut.

Hal senada juga disampaikan Ahmadi, yang hadir sebagai narasumber sekaligus alumni dan Ketua Majelis Ta’lim “Ashfiya”. Ia menegaskan bahwa peran alumni sangat penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai pesantren.

Terpantau dari acara peringatan Haul ke 5 Almathum KH. Abdullah kali ini dari pagi hari sudah diisi dengan beragam kegiatan termasuk pelayanan administrasi Adminduk untuk santri dan masyarakat, Khotmil Quran serta acara sosial dan keagamaan lainnya.
Menatap Masa Depan
Kini, Ponpes Nurul Falah terus berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di wilayah Binakal. Meski tetap mempertahankan kesederhanaan, eksistensinya kian diperhitungkan dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Haul ke-5 ini menjadi pengingat bahwa cahaya yang dinyalakan puluhan tahun lalu belum padam. Ia terus menyala, menerangi langkah para santri—menuju masa depan yang religius, cerdas, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Nurul Falah bukan sekadar pesantren. Ia adalah warisan nilai, yang terus hidup dalam setiap langkah perjuangan generasinya.












