Bondowoso, sinar.co.id,- Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso, Ahmad Dhafir, melontarkan pernyataan menarik saat berbicara mengenai target politik partainya pada Pemilu 2029. Ia menyebut sebagian kursi legislatif yang pernah menjadi milik PKB kini masih “dipinjam tetangga” dan bertekad merebutnya kembali.
Pernyataan bernada senda sindiran politik itu disampaikan Ahmad Dhafir seusai mengikuti prosesi pengukuhan pengurus DPC PKB Bondowoso di Graha NU, Kelurahan Kota Kulon, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Dhafir, setiap ketua partai tentu memiliki cita-cita untuk membawa partainya meraih kemenangan. Karena itu, target penambahan kursi legislatif bukan sekadar janji, melainkan harus diperjuangkan melalui strategi yang matang.
“Semua ketua partai memiliki cita-cita yang sama. Aneh kalau ada ketua partai ingin partainya kalah. Tentu saya tidak hanya berkata target PKB di 2029 menambah kursi,” ujarnya.
Dhafir kemudian mengungkit perjalanan panjang perolehan kursi PKB di DPRD Bondowoso. Ia menyebut, sejak awal berdiri, PKB pernah menguasai 28 kursi legislatif. Namun, jumlah tersebut terus menyusut hingga menjadi 23 kursi pada 2004 dan kini tersisa 16 kursi pada 2026.
Namun demikian, dari data terhimpun jumlah kursi PKB di Bondowoso merupakan pemecah rekor terbanyak di seluruh kabupaten/kota di Indomesia
“Artinya, dari 28 ke 16, sisa kursinya masih dipinjam tetangga. Jadi, jika pada 2029 nanti kursi yang dipinjam itu saya perlukan, ya mohon maaf, akan diambil lagi,” katanya seraya ketawa.
Ungkapan kursi yang dipinjam tetangga menjadi gambaran tekat politik PKB Bondowoso untuk mengembalikan kejayaan partai sekaligus memperbesar kekuatan di parlemen daerah. Dhafir mengisyaratkan, penambahan kursi tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan pemilih yang sudah ada, tetapi juga membutuhkan strategi untuk menarik dukungan konstituen yang selama ini memilih partai lain.
Ia mengibaratkan dinamika politik seperti perang gerilya. Dalam strategi tersebut, diam bukan berarti tidak bergerak, melainkan sedang membaca keadaan, menghitung kekuatan, dan menentukan momentum yang tepat.
“Politik itu seperti perang gerilya. Tiarap bukan berarti tidur, tetapi berhitung strategi, kira-kira berapa kursi yang bisa diambil,” tuturnya.
Ahmad Dhafir: Andalkan Strategi, Bukan Target di Atas Kertas
Di balik target merebut kembali kursi yang disebutnya masih dipinjam partai lain, Dhafir menegaskan bahwa kekuatan politik tidak bisa dibangun secara instan. Diperlukan evaluasi, pembenahan organisasi, pembagian tugas yang jelas, serta strategi yang disusun secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, kepengurusan DPC PKB Bondowoso yang baru dikukuhkan berjumlah sekitar 70 orang dengan pembidangan tugas masing-masing. Struktur tersebut diharapkan mampu memperkuat kerja kolektif dan kolegial dalam membesarkan partai.
Dhafir juga menyoroti komposisi pengurus yang kini banyak diisi kalangan milenial. Menurutnya, lebih dari 50 persen pengurus merupakan generasi muda yang diharapkan memahami tugas dan fungsi masing-masing sekaligus mampu menciptakan suasana organisasi yang nyaman bagi anak muda.
Keterlibatan generasi muda tersebut dinilai menjadi salah satu modal untuk memperluas basis dukungan PKB, terutama dalam menghadapi perubahan karakter pemilih dan persaingan politik pada Pemilu 2029.
Dhafir sendiri bukan sosok baru dalam politik Bondowoso. Ketua DPRD Bondowoso yang telah menjabat selama lima periode itu mengungkapkan, perjalanan politiknya di PKB dimulai ketika dirinya masih menjabat sebagai sekretaris partai, sebelum kemudian dipercaya menjadi ketua DPC hingga sekarang.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses panjang membangun kekuatan PKB di Bondowoso. Karena itu, target penambahan kursi pada 2029 tidak bisa hanya disampaikan sebagai slogan politik tanpa perhitungan yang jelas.
“Jadi, saya tidak ujug-ujug bilang target nambah kursi. Namun, harus dibuktikan dengan strategi matang, evaluasi, dan lain sebagainya. Besarnya PKB Bondowoso saat ini merupakan hasil penataan kinerja dan strategi yang sudah lama dibangun, bukan instan,” tegasnya.
Dengan target tersebut, Pemilu 2029 menjadi momentum bagi PKB Bondowoso untuk menguji hasil konsolidasi organisasi dan strategi politiknya. Adapun ungkapan kursi yang masih “dipinjam tetangga” menjadi penegasan bahwa partai itu tak sekadar ingin bertahan, tetapi juga berambisi mengambil kembali posisi yang pernah dikuasainya di DPRD Bondowoso.












