Bondowoso, sinar.co.id,- Festival Kopi dan Tembakau Nusantara (FKN) ke-9 tak sekadar menjadi panggung promosi komoditas unggulan Bondowoso. Gelaran yang berlangsung selama delapan hari itu juga menjadi magnet bagi para buyer yang memburu kopi berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar daerah hingga mancanegara.
Salah satu pelaku usaha kopi Bondowoso, Krisna Divatala, sekaligus owner Kopi Nala di Kampung Kopi Pelita, mengungkapkan tingginya transaksi yang berhasil dibukukan selama pelaksanaan FKN.
Krisna menyebut, hingga momentum penutupan Festival Kopi 9 di Alun-alun RBA Ki Ronggo Bondowoso, Jumat malam (4/9/2026), kedainya telah menjual sekitar 138 kilogram kopi premium robusta dan 62 kilogram kopi jenis liberika.
Angka tersebut, menurutnya, masih jauh dari besarnya permintaan buyer yang datang ke Bondowoso.
“Permintaan buyer sebenarnya mencapai ratusan ton. Namun kami belum mampu memenuhi seluruh permintaan karena stok kopi yang tersedia terbatas,” ujar Krisna.
Terbatasnya stok bukan karena minimnya pasar. Sebaliknya, sebagian besar produksi kopi miliknya bahkan telah lebih dulu terserap pasar luar daerah.
Krisna mengatakan, sebelum even digelar, stok kopi di tempatnya sudah terdistribusikan ke sejumlah daerah, di antaranya untuk memenuhi pasokan di Utama Raya Situbondo, Bali, serta sejumlah wilayah lainnya.
Kondisi tersebut membuat momentum FKN menjadi sekaligus peluang dan tantangan bagi pelaku usaha kopi. Di satu sisi, buyer datang dengan permintaan besar. Di sisi lain, pengusaha harus berhadapan dengan keterbatasan stok.
FKN Jadi Titik Temu Buyer dan Petani Kopi
Bagi Krisna, FKN merupakan ruang strategis yang mempertemukan langsung pengusaha kopi Bondowoso dengan buyer dari berbagai daerah.
Menurutnya, buyer bahkan tidak selalu harus diundang untuk datang ke Bondowoso. Ketika kualitas kopi sudah dikenal dan memiliki pasar, para pembeli akan datang sendiri untuk mencari produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selama delapan hari penyelenggaraan FKN, para buyer tidak hanya mencicipi kopi. Mereka juga berdiskusi mengenai karakter produk, kualitas, harga hingga peluang kerja sama jangka panjang.
“Buyer datang, menikmati, mencoba, menanyakan harga, kemudian membeli dengan jumlah yang tidak sedikit. Bahkan sebagian besar tidak berhenti pada transaksi di FKN, tetapi mengikat kerja sama berkelanjutan,” katanya.
Menariknya, sejumlah buyer yang telah membeli kopi di arena FKN kemudian melanjutkan kunjungan langsung ke lokasi produksi.
Mereka mendatangi Kampung Kopi Pelita untuk melihat secara langsung proses dan kondisi usaha kopi yang mereka minati.
Fenomena tersebut menjadi sinyal bahwa Bondowoso tidak hanya memiliki komoditas kopi, tetapi juga memiliki potensi untuk membangun rantai bisnis kopi yang lebih panjang.
“Kami berharap ke depan pemerintah bisa semakin memaksimalkan komoditas kopi di Bondowoso,” harap Krisna.
Kulit Kopi Disulap Jadi Produk Bernilai
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, mengatakan pelaku usaha kopi memperoleh manfaat ganda dari pelaksanaan FKN #9.
Selain mendapatkan keuntungan dari transaksi jual beli, para pelaku usaha juga memperoleh ruang promosi untuk memperkenalkan produknya kepada buyer dari luar daerah maupun mancanegara.
Namun, pengembangan komoditas kopi menurut Mulyadi tidak berhenti pada bijinya.
Pemerintah juga mendorong inovasi pengolahan limbah kopi agar memiliki nilai ekonomi baru.
Salah satunya melalui inovasi Wine Cascara, yang mengolah kulit kopi yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah menjadi produk minuman bernilai tambah.
Selain itu, terdapat inovasi POC kulit kopi, pupuk bokashi, hingga program “Kulit Kopi Jadi Berkah”, yakni pengolahan limbah kulit kopi menjadi kompos yang memiliki nilai ekonomi.
“Jadi bukan hanya kopinya yang kami manfaatkan. Limbahnya juga kami upayakan agar berdaya saing dan memiliki nilai tambah,” terang Mulyadi.
Delegasi Kamerun Bakal Belajar Kopi Bondowoso
Potensi kopi Bondowoso juga semakin terbuka setelah adanya rencana kedatangan tamu dari Kamerun, Afrika.
Mulyadi mengungkapkan, dalam waktu dekat Bondowoso dijadwalkan menerima kunjungan dari Kamerun bersama delegasi sekitar 40 pengusaha.
Kunjungan tersebut berkaitan dengan agenda pembelajaran agrikultur dan agrobisnis, termasuk melihat secara langsung pengembangan pertanian kopi di Bondowoso.
Menurut Mulyadi, rencana tersebut menjadi peluang penting untuk memperkenalkan pengalaman dan potensi kopi Bondowoso kepada dunia internasional.
“Insyaallah dalam waktu dekat akan ada tamu dari Kamerun Afrika bersama delegasi 40 pengusaha yang akan turun langsung ke Bondowoso. Agenda mereka belajar agrikultur agrobisnis, termasuk pertanian kopi di Bondowoso,” ungkapnya.
Perputaran Ekonomi Capai Rp1,96 Miliar
FKN IX juga memberikan dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Mulyadi menyebut, berdasarkan catatan selama delapan hari pelaksanaan, terdapat dua komponen utama yang menyumbang perputaran ekonomi, yakni booth kopi dan sekitar 150 pelaku UMKM.
Dari dua sektor tersebut, potensi perputaran ekonomi selama FKN IX diperkirakan mencapai Rp1,96 miliar.
Capaian itu menunjukkan bahwa festival tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi telah berkembang menjadi ruang transaksi, promosi, sekaligus pembuka akses pasar bagi produk lokal Bondowoso.
Dengan tingginya permintaan buyer, termasuk permintaan dalam jumlah besar yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi, pekerjaan rumah berikutnya bagi Bondowoso adalah memastikan kapasitas produksi, kualitas, inovasi, dan keberlanjutan komoditas kopi mampu berjalan beriringan.
Jika hal tersebut dapat diwujudkan, FKN bukan hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi dapat menjadi pintu yang membawa kopi Bondowoso semakin jauh menembus pasar nasional bahkan internasional.












