Bondowoso, sinar.co.id,- Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, menyambut positif realisasi penanaman 2.000 bibit pohon🏷️ mahoni di lereng Gunung Argopuro🏷️. Program penghijauan yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bondowoso🏷️ itu, dinilai sebagai langkah konkret mitigasi bencana, terutama banjir bandang yang kerap melanda desa setempat.
Penanaman dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Sekretaris Daerah Bondowoso, Plt Kepala BPBD, Asisten I Setda, Dinsos P3AKB, Camat Maesan, Perhutani, Satpol PP, Tagana, PMI, Forkopimcam Maesan, hingga Pemerintah Desa Gunungsari.
Bagi warga, langkah ini menjadi harapan baru. Jauhari (40), warga setempat, menyebut desanya sudah bertahun-tahun menjadi “langganan” banjir.
“Reboisasi ini langkah yang tepat untuk memulai pencegahan banjir. Tapi kami berharap tidak berhenti di sini. Perlu juga perbaikan drainase dan pembersihan sampah di wilayah atas gunung,” ujarnya.
Desa Gunungsari Wilayah Rawan Banjir
Camat Maesan, Dwi Wahyudi, menegaskan bahwa penghijauan di lereng Argopuro merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan warga. Menurutnya, Desa Gunungsari berada di wilayah rawan bencana🏷️ karena posisinya tepat di bawah lereng gunung.
“Banjir bandang terakhir terjadi tahun 2025. Reboisasi ini bagian dari peta preventif BPBD untuk mengurangi risiko bencana,” kata Dwi.
Selain penanaman pohon, pemerintah juga menyiapkan langkah pendukung lain, seperti pengajuan perbaikan saluran irigasi dan jembatan ke pemerintah kabupaten dan provinsi.
“Mitigasi bencana tidak bisa satu langkah saja. Alam harus dijaga dengan bijak, pohon-pohon yang memperkuat struktur tanah di lereng gunung harus dilindungi,” tambahnya.
Program reboisasi ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda simbolis, tetapi benar-benar berkelanjutan dan berdampak nyata dalam menekan risiko banjir bandang di kawasan lereng gunung Argopuro🏷️.












