Bondowoso, sinar.co.id,- Suasana penuh haru menyelimuti lapangan upacara saat ratusan prajurit Yonif 514/Sabaddha Yudha Bondowoso, dilepas menuju misi perdamaian ke Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Bukan hanya prosesi militer yang berlangsung khidmat, tetapi momen perpisahan antara prajurit dan keluarga menjadi sorotan paling menyentuh.
Isak tangis pecah begitu upacara selesai. Para istri, anak, hingga orang tua tak kuasa menahan haru saat harus melepas orang tercinta menuju daerah penugasan. Pelukan erat, genggaman tangan yang enggan dilepas, hingga tangisan histeris menjadi potret nyata pengorbanan di balik seragam loreng.
Tangis Haru Antara Sedih dan Bangga
Sejumlah anak tampak menangis memanggil ayahnya yang perlahan berbaris meninggalkan lapangan. Sementara para istri berusaha tegar, meski air mata terus mengalir tanpa henti.
“Antara sedih dan bangga saya melepas kepergian suami. Ini berat, tapi demi tugas negara kami harus ikhlas,” ujar Ny. Niluh Putu Oktaviani sambil menggendong anaknya yang masih kecil, sesekali mengusap air mata.
Momen tersebut menggambarkan sisi lain dari tugas militer—bukan hanya tentang keberanian di medan operasi, tetapi juga keteguhan hati keluarga yang ditinggalkan. Mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan, meski tanpa seragam dan pangkat.

Di tengah suasana haru, Komandan Kodim 0822 Bondowoso, Letkol. Inf. Prawito, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan pesan penuh makna kepada para prajurit. Ia menegaskan bahwa tugas yang diemban bukan sekadar penugasan biasa, melainkan amanah besar membawa nama bangsa di kancah internasional.
Namun, lebih dari itu, momen perpisahan ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah prajurit di medan tugas selalu diiringi doa dan harapan dari keluarga di tanah air.
Keberangkatan Satgas Yonmek TNI Konga XXIII/UNIFIL Lebanon ini bukan hanya tentang misi perdamaian dunia, tetapi juga tentang ketulusan melepas, keikhlasan menunggu, dan harapan untuk kembali dalam pelukan yang sama—lengkap dan penuh kebanggaan.












