Bondowoso, sinar.co.id,- Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap dalam dinginnya dini hari, denyut aktivitas pekerja justru mulai terasa di dapur SPPG Magdalena ABK Group, Desa Tegal Pasir, Kecamatan Jambesari.
Di sanalah para pekerja Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjibaku dengan waktu, tenaga, dan pikiran demi memastikan setiap porsi makanan tersaji tepat waktu, higienis, dan bergizi.
Jarum jam bahkan belum menyentuh waktu subuh saat para pekerja sudah berdiri di balik meja produksi. Suara peralatan dapur bersahutan, aroma masakan mulai merebak, dan ritme kerja berjalan cepat namun terukur. Mereka sadar, setiap menu yang diolah bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari upaya besar memenuhi kebutuhan gizi para penerima manfaat.
Tak ada ruang untuk kesalahan. Mutu menu harus terjaga, kebersihan menjadi prioritas utama, dan kandungan gizi diperhitungkan dengan cermat. Standar higienitas diterapkan ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga pengemasan. Semua dilakukan agar tujuan program MBG benar-benar sesuai dengan harapan bersama.
“Setiap hari kami harus memastikan makanan yang diproduksi aman dan bergizi. Itu tanggung jawab kami bersama,” ujar salah satu pekerja di sela aktivitasnya Kamis, (26/02/2026).
Kisah lain Para Pekerja
Di balik kesibukan tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tak kalah menyentuh. Salah satunya datang dari Linda, seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi bagian dari karyawan SPPG di Tegal Pasir.
Sebelum bergabung dalam program MBG, Linda mengaku hidup dalam tekanan ekonomi. Demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak, ia terpaksa meminjam uang dari rentenir atau yang kerap disebut masyarakat sebagai “Bank Plecit”.
“Dulu saya benar-benar tertekan. Kebutuhan rumah tangga, anak sekolah, semuanya berat sampai harus pinjam ke Bank Plecit,” tutur Linda dengan suara bergetar.
Lilitan utang itu sempat membuatnya kehilangan rasa tenang. Penghasilan yang tidak menentu membuatnya kesulitan menutup kebutuhan sehari-hari, apalagi membayar cicilan dengan bunga tinggi.
Namun keadaan perlahan berubah sejak ia bekerja di program MBG. Penghasilan tetap yang diterima setiap bulan menjadi penopang baru bagi ekonomi keluarganya. Kini, ia bisa mengatur keuangan lebih stabil dan mulai melepaskan diri dari jerat utang.
“Alhamdulillah, sekarang bisa sedikit demi sedikit melunasi utang. Setidaknya saya tidak lagi merasa sendirian menghadapi kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Kisah Linda menjadi gambaran bahwa program MBG bukan hanya tentang distribusi makanan bergizi, tetapi juga tentang perputaran ekonomi di tingkat desa. Program ini membuka lapangan kerja, memberikan pendapatan bagi warga sekitar, serta mengurangi ketergantungan masyarakat pada pinjaman berbunga tinggi.
Di Desa Tegal Pasir, keberadaan SPPG Magdalena ABK Group telah menjadi sendi baru perekonomian lokal. Para pekerja bukan sekadar karyawan dapur, melainkan bagian dari roda sosial yang saling menguatkan: mereka memproduksi makanan untuk masyarakat, dan dari pekerjaan itu pula kehidupan keluarga mereka ikut tertopang.
Saat matahari akhirnya terbit dan masyarakat memulai aktivitasnya, tugas para pekerja MBG di dapur telah hampir rampung. Mereka mungkin tak terlihat di panggung utama, namun dedikasi mereka mengalir dalam setiap sajian yang diterima masyarakat.
Di balik sepiring menu MBG, ada peluh yang menetes sebelum fajar, ada harapan yang diperjuangkan, dan ada keluarga-keluarga yang perlahan bangkit dari tekanan ekonomi. Sebuah kerja sunyi yang dampaknya terasa nyata.












