Bondowoso, sinar.co.id,- Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mendorong penguatan ekosistem kopi Bondowoso melalui perluasan akses pasar, inklusi keuangan, dan digitalisasi data petani. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat daya saing kopi lokal.
Senior Technical Officer Global Programme on Financial Education ILO, Yousra Hamed, mengatakan pengembangan kopi tidak cukup hanya bertumpu pada peningkatan produksi. Petani dan pekerja juga membutuhkan akses pasar serta layanan keuangan yang lebih luas.
ILO Perkuat Ekonomi Rakyat
“Tujuan nyata melalui proyek ini adalah memperkuat mata pencaharian penduduk Bondowoso,” ujar Yousra di Pendopo Raden Bagus Asra Bondowoso, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, kolaborasi pemerintah daerah, lembaga keuangan, petani, dan pelaku usaha menjadi kunci agar manfaat ekonomi sektor kopi dapat dirasakan lebih luas.
Sementara itu, Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, menjelaskan program tersebut masih dalam tahap percontohan (pilot project). Dua lokasi yang dipetakan, yakni kelompok Pak Tohari dan kawasan Argopuro yang dikaitkan dengan Pak Dhani, masing-masing berpotensi menjangkau sekitar 1.000 petani.
“Jadi, sudah sekitar 2.000 petani yang bisa masuk ke dalam sistem ini,” ungkap Hergiar.
Salah satu fokus program ialah penerapan Enterprise Resource Planning (ERP), sistem digital yang mengintegrasikan data produksi, kualitas kopi, dan pembiayaan. Data tersebut diharapkan membantu memperjelas profil usaha petani sehingga pengajuan modal ke perbankan maupun lembaga keuangan menjadi lebih mudah.
“Harapannya, ketika data sudah lebih tergambar dengan jelas, akses permodalan petani ke perbankan atau lembaga keuangan lainnya bisa lebih mudah,” jelasnya.
Selain digitalisasi, Diskoperindag juga mendorong sertifikasi kompetensi bagi barista dan roaster. Hergiar berharap setidaknya lima tenaga profesional kopi dapat mengikuti sertifikasi setiap periode.
Ia memperkirakan, berdasarkan pengamatannya, tenaga barista dan roaster bersertifikat masih sekitar 20 persen. Namun, angka tersebut belum didukung pendataan menyeluruh.
Melalui penguatan data, akses pembiayaan, perluasan pasar, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja, Bondowoso berharap identitas sebagai Republik Kopi semakin kuat, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku industri kopi.
Keberhasilan program selanjutnya akan ditentukan oleh hasil penerapan proyek percontohan, perluasan akses pasar, serta manfaat nyata yang diterima petani dan pekerja kopi.












