Scroll untuk membaca artikel
Daerah

Neo Letto Ungkap Keberagaman Cita Rasa Kopi Bondowoso Layak Mendunia

Redaksi
768
×

Neo Letto Ungkap Keberagaman Cita Rasa Kopi Bondowoso Layak Mendunia

Sebarkan artikel ini
keberagaman
Sabrang didampingi Kepala DPKP Bondowoso Mulyadi saat menikmati salah satu citarasa kopi di stand Kopi Bunga Pelita (31/08)

Bondowoso, sinar.co.id, Meski sempat terpeleset mengatakan “kebun binatang kopi” untuk memberi predikat keberagaman citarasa kopi di Bondowoso, musisi sekaligus budayawan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang akrab dikenal sebagai Neo Letto, memberikan perhatian positif khusus terhadap keberagaman kopi Bondowoso.

Pernyataan itu sontak menjadi selipan humor di tengah pernyataan serius mengenai potensi kopi Bondowoso. Sabrang pun segera mengoreksi ucapannya dengan menyebut istilah “kebun kopi”, yang justru kemudian menggambarkan kekayaan pilihan dan pengalaman menikmati kopi dari berbagai karakter langsung di kebunnya.

Keberagaman Kopi Bondowoso

“Macam-macam kopi di Bondowoso, rasanya seperti kebun binatang kopi, eh bukan, kebun kopi. Macam-macam yang bisa dicoba dan menarik semuanya. Tinggal urusan selera kalau itu,” ujar Sabrang kepada awak media seraya tersenyum.

Di balik plesetan tersebut, ada pesan yang lebih serius. Sabrang melihat keberagaman kopi Bondowoso sebagai sebuah kekuatan yang patut dikembangkan, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan penikmat kopi lokal, tetapi juga menjadi modal untuk memperkenalkan kopi daerah ke pasar yang lebih luas.

Baca Juga :   Jalur Kawah Ijen Kembali Normal, Disparbudpora Bondowoso Upayakan Kejar Bola

Sabrang yang sudah dua kali ke Bondowoso🏷️,  bahkan mengaku tertarik setelah mencicipi salah satu kopi endemik Indonesia. Menurutnya, kopi tersebut memiliki karakter rasa dan aroma yang memberikan kesan tersendiri.

“Kopi endemik Indonesia, sepertinya impress saya, tertarik banget,” katanya.

Sabrang mengakui dirinya bukan seorang deskriptor kopi yang mampu menerjemahkan karakter rasa dengan istilah teknis sebagaimana para profesional di dunia perkopian. Namun, pengalaman menyeruput kopi tersebut cukup memberinya kesan kuat.

“Saya bukan deskriptor kopi, jadi saya enggak tahu cara menerjemahkan dengan bahasa teman-teman kopi. Tapi kalau saya merasakan ini pekat tanpa bikin pusing,” ungkapnya.

Bagi Sabrang, kekuatan kopi tidak berhenti pada kualitas biji atau cita rasa yang dihasilkan. Ada faktor lain yang menentukan apakah sebuah komoditas mampu bertahan, berkembang, dan akhirnya menembus pasar dunia.

Ia menyebut penguatan ekosistem menjadi salah satu kunci penting. Ekosistem tersebut mencakup aspek legal, finansial, konektivitas, hingga berbagai unsur pendukung lain yang memungkinkan komoditas kopi tumbuh secara berkelanjutan.

“Ekosistemnya, ekosistem legal, ekosistem finansial, sama koneksi ekosistem dan seterusnya. Harapan saya itu diperkuat,” tuturnya.

Baca Juga :   Saat Infrastruktur Terganggu, Pengamanan Polres Bondowoso Menguat

Menurut Sabrang, Bondowoso sejatinya sudah memiliki modal utama berupa komoditas kopi dengan kualitas yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut ditopang oleh sistem yang juga kuat sehingga mampu menghasilkan nilai yang lebih besar.

“Karena kopinya sudah kuat, bahan dasar yang sudah kuat akan menjadi jauh lebih kuat kalau sistemnya diperkuat,” katanya.

Ia juga menilai keberadaan kebun kopi yang dapat dikunjungi menjadi daya tarik tersendiri. Bagi Sabrang, pengalaman menikmati kopi tidak semata-mata berbicara tentang secangkir minuman, tetapi juga tentang tempat, suasana, keragaman, dan pengalaman yang menyertainya.

“Seperti kebun kopi yang bisa dicoba dan menarik. Semuanya tinggal urusan selera,” ujarnya.

Pengalaman mencicipi kopi khas dari kawasan Indonesia Timur turut memperkuat pandangannya bahwa Indonesia memiliki kekayaan karakter kopi yang sangat beragam. Perbedaan rasa tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari potensi besar yang layak terus diperkenalkan.

Potensi itu, kata Sabrang, membutuhkan ekosistem yang saling terhubung agar kekuatan komoditas tidak berhenti pada tahap produksi. Dukungan sistem yang tepat dapat membuka peluang lebih besar bagi kopi daerah untuk memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

Baca Juga :   Caleg DPRD Lumajang Ma’ruf Nidhomuddin Kampanyekan AMIN Lewat Grebek Kampung

Hal tersebut disampaikan Sabrang seusai menjadi pembicara dalam talk show Festival Kopi dan Tembakau Nusantara di Alun-Alun Raden Bagus Asrah Bondowoso, Senin (31/8/2026).

Ia menilai kopi merupakan salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan sekaligus diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Pada akhirnya, istilah “kebun binatang kopi” yang sempat terlontar mungkin hanya sebuah plesetan spontan. Namun, kalimat tersebut justru menggambarkan satu hal yang ingin disampaikan Sabrang: kopi Indonesia, termasuk Bondowoso, memiliki begitu banyak karakter dan pilihan yang menarik untuk dijelajahi.

Dengan kualitas komoditas yang telah memiliki modal kuat serta ekosistem yang terus diperbaiki, Sabrang berharap kopi Bondowoso tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi mampu mengambil tempat di pasar internasional.

“Harus terus merambah dunia,” tegas Sabrang.

https://www.tiktok.com/@sinar.co.id

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp