Bondowoso, sinar.co.id,- Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso turun langsung ke sentra produksi tape di Kecamatan Binakal, Minggu (31/05/2026), untuk melihat kondisi riil yang dihadapi para pengusaha tape.
Hal ini dilatari kondisi pelaku usaha tape di Kabupaten Bondowoso yang belakangan mengalami tekanan akibat mahalnya harga singkong dan melemahnya permodalan yang akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut atas keluhan para pelaku usaha tape yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan produksi, bahkan sebagian terpaksa menghentikan usahanya.
Data yang dihimpun di lapangan menunjukkan sekitar 60 persen pelaku usaha tape di sentra Binakal mengalami penurunan kapasitas produksi. Sebagian di antaranya bahkan memilih menutup usaha karena tidak lagi mampu menutupi biaya produksi yang terus meningkat.
Rahmatullah, salah satu pengusaha tape di Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal, mengungkapkan bahwa dampak krisis bahan baku dan permodalan tidak hanya dirasakan oleh usaha yang masih bertahan, tetapi juga oleh para pelaku usaha yang sudah gulung tikar.
“Banyak yang sudah berhenti produksi. Ada yang berangkat kerja ke perkebunan sawit di Kalimantan, ada yang mencari pekerjaan ke Bali, dan ada juga yang sampai sekarang masih menganggur,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan harga singkong sebagai bahan baku utama tape menjadi pukulan berat bagi para produsen. Di sisi lain, harga jual tape di pasaran tidak mengalami kenaikan yang signifikan sehingga keuntungan usaha terus tergerus.
Sementara itu, Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi industri tape saat ini memang cukup kompleks. Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua produsen tape berhenti beroperasi.
“Yang berhenti produksi umumnya pelaku usaha yang secara permodalan masih terbatas. Sedangkan yang memiliki modal lebih kuat masih mampu bertahan meskipun menghadapi tekanan biaya produksi yang sama,” jelasnya.
Hergiar menerangkan, mahalnya harga singkong saat ini dipicu oleh berkurangnya jumlah petani yang menanam komoditas tersebut. Banyak petani memilih beralih ke tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan sehingga pasokan singkong menurun dan harga di tingkat pasar naik.
“Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat. Sementara harga tape tidak bisa langsung naik mengikuti harga bahan baku. Akibatnya modal usaha terus terkikis dan pada akhirnya banyak pengusaha yang kesulitan melanjutkan produksi,” katanya.
Dari hasil dialog dengan para pelaku usaha di Binakal, Diskoperindag menemukan bahwa persoalan utama yang paling mendesak adalah keterbatasan modal usaha.
“Atas dasar itu kami akan melaporkan hasil kunjungan ini kepada pimpinan. Solusi sementara yang akan kami lakukan adalah berkoordinasi dengan pihak perbankan agar pelaku usaha tape yang sudah berhenti maupun yang sedang kesulitan dapat memperoleh akses permodalan,” ujarnya.
Diskoperindag Juga Canangkan Pembenahan
Tak hanya fokus pada pembiayaan, Diskoperindag juga menyiapkan langkah pembenahan yang lebih menyeluruh terhadap industri tape Bondowoso. Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas produksi, modernisasi kemasan, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Menurut Hergiar, sebagian besar produk tape di Binakal masih menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu. Meski memiliki nilai budaya tersendiri, kemasan tersebut dinilai perlu dikembangkan agar lebih kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kami ingin melakukan perbaikan dari sisi produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Tape Bondowoso memiliki potensi besar sehingga perlu didukung dengan kemasan yang lebih menarik dan strategi pemasaran yang lebih modern,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berperan sebagai fasilitator bantuan modal, tetapi juga akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan sampai berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha dapat teratasi.

“Kami akan memetakan seluruh persoalan dari hulu hingga hilir. Mulai dari ketersediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, pemasaran, hingga akses pembiayaan. Semua harus ditangani secara terintegrasi,” tegasnya.
Diketahui, Kabupaten Bondowoso memiliki dua sentra utama produksi tape, yakni di Kecamatan Binakal dan Kecamatan Wringin. Kedua kawasan tersebut selama ini menjadi tulang punggung industri tape yang telah lama menjadi ikon kuliner sekaligus identitas daerah Bondowoso.
Dengan adanya langkah cepat dari Diskoperindag, para pelaku usaha berharap industri tape yang mulai terancam akibat krisis bahan baku dan permodalan dapat kembali bangkit sehingga tidak semakin banyak usaha yang tutup dan meninggalkan warisan kuliner khas Bondowoso tersebut.












