Bondowoso, sinar.co.id,- Upaya pemberdayaan potensi lokal dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digencarkan di Kabupaten Bondowoso. Salah satunya ditunjukkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambesari 1 yang berkomitmen menggandeng pemasok lokal selama memenuhi standar yang ditetapkan.
Ayam Crispy Berkokok Pasca Lebaran
Pada pekan pertama pasca Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, SPPG Jambesari 1 menghadirkan menu unik bertajuk “ayam crispy berkokok”. Menu ini menjadi variasi menarik sekaligus upaya menjaga keseimbangan gizi bagi penerima manfaat program MBG.
Ahli Gizi SPPG Mitra Mandiri Magdalena ABK Group, Widi Pawesti, S.Tr.Gz., menjelaskan bahwa komposisi menu tersebut telah disusun sesuai prinsip gizi seimbang. Nasi disajikan sebagai sumber energi, dilengkapi sayuran segar seperti selada dan timun, serta protein nabati dari tempe dan protein hewani dari daging ayam.
“Sekitar 90 persen bahan yang digunakan berasal dari potensi lokal yang kami prioritaskan sebagai mitra supplier,” ujarnya.
Meski demikian, Widi mengakui tidak semua kebutuhan bahan dapat dipenuhi dari dalam daerah, khususnya untuk komoditas buah. Hal ini disebabkan adanya standar ketat dari Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk aturan terbaru yang tidak memperbolehkan penyajian buah dalam bentuk potongan.
“Untuk buah kami harus selektif. Jika bahan lokal belum memenuhi kriteria, terpaksa kami datangkan dari luar daerah,” tambahnya.
Senada Kasatgas Kabupaten Bondowoso
Di sisi lain, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i yang juga menjabat sebagai Kepala Satgas MBG Kabupaten, menegaskan pentingnya percepatan penguatan potensi lokal agar mampu menopang kebutuhan program secara berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat koordinasi bersama Satgas Kabupaten dan Forkopimcam yang digelar secara virtual, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah tengah merancang konsep pembinaan berbasis kecamatan guna memetakan sekaligus meningkatkan kualitas potensi lokal yang ada.
“Setiap kecamatan harus mampu mendata dan membina potensi lokalnya agar bisa memenuhi standar bahan untuk program MBG,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar kebijakan pemanfaatan bahan lokal tidak dilakukan secara memaksa tanpa kesiapan dari sisi kualitas maupun ketersediaan.
“Jangan sampai SPPG ditekan menggunakan bahan lokal, sementara secara kualitas belum memenuhi kriteria. Ini harus dibangun bersama melalui pembinaan,” pungkasnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan sinergi antara pemerintah, SPPG, dan pelaku usaha lokal dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat Bondowoso secara berkelanjutan.












