Scroll untuk membaca artikel
Pendidikan

FAA PPMI Gelar Reuni dan Seminar Nasional Bertema “Oase Gelap Terang Indonesia” di UB Malang

Redaksi
222
×

FAA PPMI Gelar Reuni dan Seminar Nasional Bertema “Oase Gelap Terang Indonesia” di UB Malang

Sebarkan artikel ini
FAA PPMI

Malang, sinar.co.id,-Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) menggelar Reuni dan Seminar Nasional di Auditorium Universitas Brawijaya (UB) Malang, Sabtu (25/10/2025). Acara ini mengusung tema “Oase Gelap Terang Indonesia” sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa saat ini.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti, dan Aktivis Sosial Inayah Wahid.

FAA PPMI Kesenjangan Sosial Masih Jadi Masalah Besar

Rektor UB, Prof. Widodo, dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia masih menghadapi banyak persoalan, salah satunya kesenjangan sosial dan ekonomi.

“Penduduk miskin masih banyak, sehingga muncul pertanyaan, siapa yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi ini?,” ujarnya.

Ia menyebut hanya 13 persen penduduk Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi, jauh di bawah negara maju yang mencapai 40–50 persen.

“Ketika pertumbuhan ekonomi tidak diiringi kualitas sumber daya manusia maka kesenjangan ekonomi dan sosial semakin lebar,” katanya.

Menurutnya, minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi sebenarnya besar, namun hanya sekitar 30 persen lulusan SMA yang melanjutkan kuliah. “Hambatan biaya dan pola pikir masih menjadi faktor utama penyebabnya,” ujarnya.

Baca Juga :   Peduli Lingkungan di Harlah Kopri PMII ke-56, PC Jember Naik Kereta dan Bermalam di Paseban

Widodo menambahkan, rendahnya tingkat pendidikan berdampak pada lemahnya inovasi nasional dan rendahnya daya kewirausahaan, yang baru sekitar 3 persen dari populasi.

“Perbaikan kualitas SDM adalah faktor kunci untuk mencapai target Indonesia Emas 2045,” katanya.

Nezar Patria: Bonus Demografi Harus Dimanfaatkan

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai Indonesia punya banyak modal untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Kita punya modal yang baik dan luar biasa, yaitu kekayaan alam dan talenta manusia untuk membawa satu proses yang inovatif dan kreatif di masa ini,” ujarnya.

Nezar mengatakan, generasi muda harus disiapkan menghadapi perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI).

“Kita harus mempersiapkan generasi ke depan dengan pengetahuan yang cukup tentang teknologi ini. Adopsi teknologi harus terukur,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya berpikir kritis agar manusia tidak dikendalikan oleh teknologi. “Kecerdasan buatan tidak bisa memperbudak kita kalau kita punya critical thinking,” ujarnya.

Bivitri Susanti: Demokrasi Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Baca Juga :   Reuni Akbar Aktivis Pers Mahasiswa Indonesia 2025 di Malang: Pasang Twibbonmu dan Ramaikan #SolidaritasLintasGenerasi

Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti, menilai demokrasi Indonesia sedang mengalami kemunduran.

“Salah satu sisi gelap kondisi saat ini adalah demokrasi sedang tidak baik-baik saja. Institusi demokrasi prosedural sekarang digunakan untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu,” ujarnya.

Ia juga menyinggung penangkapan ratusan aktivis karena menyampaikan aspirasi masyarakat. Namun, Bivitri menilai masih ada harapan dari munculnya gerakan masyarakat sipil dan anak muda kritis.

“Gerakan masyarakat sipil, termasuk pers mahasiswa, menjadi oase di tengah kegelapan dan kekeringan demokrasi di Tanah Air,” katanya.

Menurutnya, gerakan sipil harus terus dirawat. “Supaya oase ini tidak mengering dan menjadi padang pasir. Saya masih yakin bahwa yang menyelamatkan demokrasi Indonesia adalah masyarakat sipil, termasuk media, pers mahasiswa, kolektif anak muda, NGO, serikat yang kerja di tapak, semuanya,” ujarnya.

Inayah Wahid: Lilin Harus Tetap Menyala

Aktivis sosial, Inayah Wahid, menilai Indonesia tengah menghadapi banyak persoalan di berbagai lini, mulai dari hukum, korupsi, hingga lingkungan.

“Sulit bilang terang 2045 akan punya Indonesia Emas. Emasnya saja tidak kelihatan,” ujarnya.

Meski begitu, ia mendorong masyarakat sipil tetap menjaga solidaritas dan nilai-nilai demokrasi.

Baca Juga :   Kabar Penting Calon Siswa SPMB 2025 Jember-Lumajang: Catat Tanggal Pentingnya

“Saya tahu itu tidak mudah, pasti capek. Kalau capek, istirahat tapi jangan berhenti. Saat ini mungkin masih kecil, tapi nanti akan membesar selama kita tidak menyerah,” katanya.

Inayah juga mencontohkan semangat ibunya, Sinta Nuriyah Wahid (77), yang masih aktif dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) memperjuangkan demokrasi.

Tentang FAA PPMI

Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) berdiri pada 24 Januari 2015 di Jakarta. Wadah ini menghimpun ribuan alumni pers mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Selama sepuluh tahun, FAA PPMI telah menjadi ruang bertemunya idealisme dan profesionalisme para alumni yang kini berkarya di berbagai bidang — mulai dari akademik, media, politik, bisnis, seni, hingga pendidikan.

Forum ini secara rutin menggelar diskusi publik dan menghasilkan gagasan kritis yang berkontribusi terhadap pembentukan opini publik dan kebijakan nasional.

 

tiktok.com/@sinar.co.id

 

Ikuti juga update berita terbaru sinar.co.id di Google News

Bergabung di saluran berita sinar.co.id di saluran WhatsApp