Bondowoso, sinar.co.id,- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bondowoso dinilai memiliki modal politik yang kuat pasca Pemilu 2024. Namun ke depan, tantangan terbesar PPP bukan hanya menjaga basis pemilih tradisional, melainkan bagaimana merebut dan mengkader pemilih dari kalangan milenial dan Generasi Z.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PPP Dapil IV, Zainiye S.Ag, usai kegiatan Pendidikan Politik dan Latihan Kepemimpinan Kader Dasar🏷️ (LKKD) yang digelar DPC PPP Bondowoso di Ballroom Bougenville Ijen View, Senin (29/12/2025).
Modal Politik Kuat PPP Bondowoso
Menurut Zainiye, capaian PPP Bondowoso pada kontestasi Pemilu 2024 patut diapresiasi karena berhasil menambah kursi menjadi 7 kursi di DPRD. Namun capaian tersebut tidak boleh membuat kader berpuas diri.
“Kalau kita lihat evaluasi 2024 kemarin, eksistensi kader PPP di Bondowoso sudah bagus karena bisa menambah kursi. Tantangannya ke depan adalah bagaimana capaian ini dikembangkan, utamanya dalam kaderisasi dan rekrutmen kader milenial serta Gen Z,” ujarnya.
Zainiye mengakui, hingga kini PPP masih kerap dipersepsikan sebagai partai konvensional dengan citra sarungan dan tradisional. Tantangan inilah yang menurutnya harus dijawab dengan kolaborasi antara kader militan yang sudah ada dengan kader-kader baru dari kalangan muda.
“Branding PPP memang masih dianggap konvensional. Tapi kalau ada kolaborasi yang baik antara kader militan dengan rekrutmen milenial dan Gen Z, saya optimis dari 7 kursi PPP Bondowoso bisa naik menjadi 9 bahkan 10 kursi,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, jika konsolidasi dan kaderisasi berjalan optimal, bukan tidak mungkin PPP Bondowoso ke depan mampu mengusung kader sendiri dalam kontestasi Pilkada, baik sebagai calon Bupati maupun Wakil Bupati.
Terkait dinamika yang terjadi di tingkat pusat, Zainiye menegaskan agar kader di daerah tetap fokus melakukan konsolidasi internal. Mengingat, dalam menghadapi Pemilu mendatang PPP wajib kembali melalui proses pendaftaran dan verifikasi faktual yang mensyaratkan kekuatan struktur dan soliditas kader.
“Apapun yang terjadi di pusat biarlah diselesaikan di pusat. Kader di bawah harus fokus konsolidasi, karena syarat mutlak lolos verifikasi faktual adalah solid dan terorganisir,” tandasnya.

Senada dengan itu, pemateri LKKD dari akademisi Universitas Jember, Hermanto Rohman S.Sos., MPA, menyebut PPP Bondowoso memiliki modal dasar yang sangat kuat karena masih dipercaya rakyat dan menjadi peraih suara terbanyak kedua pada Pileg 2024.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan akan semakin kompleks seiring perubahan demografi pemilih. Berdasarkan proyeksi, sekitar 25 hingga 30 persen pemilih pada pemilu mendatang berasal dari kalangan milenial dan Gen Z.
“Capaian 7 kursi jangan dijadikan zona nyaman. Ke depan akan ada perubahan demografi pemilih yang signifikan, dan karakter pemilih milenial serta Gen Z jelas berbeda dengan generasi sebelumnya,” jelas Hermanto.
Menurutnya, pemilih muda sangat lekat dengan dunia digital, sehingga PPP dituntut untuk melakukan penyesuaian strategi, terutama dalam komunikasi politik dan branding partai. Meski demikian, penguatan basis kultural seperti pesantren, NU, dan organisasi keislaman tetap harus dijaga.
“PPP harus adaptif secara digital, tetapi juga menghindari citra negatif yang bisa mendowngrade kepercayaan publik, seperti perpecahan internal dan isu korupsi,” imbuhnya.
Hermanto optimistis, dengan citra PPP yang dekat dengan ulama dan kekuatan kultural yang sudah mengakar, PPP Bondowoso memiliki fondasi yang solid secara struktural dan kultural. Tinggal bagaimana strategi diperkuat agar mampu memenangkan kontestasi ke depan.

“Untuk menjadi pemenang, kuncinya adalah mengenali medan dan memperkuat strategi,” pungkasnya.
Kegiatan LKKD ini menjadi bagian dari ikhtiar DPC PPP Bondowoso dalam menyiapkan kader-kader ideologis dan adaptif, guna menjawab tantangan politik era baru yang didominasi pemilih milenial dan Gen Z.












