Scroll untuk membaca artikel
Politik

Menag Tekankan Indonesia Bukan Hanya Milik Satu Agama

1110
×

Menag Tekankan Indonesia Bukan Hanya Milik Satu Agama

Sebarkan artikel ini
Menag (Menteri Agama) RI Yaqut Cholil Qoumas menekankan bahwa Indonesia bukan milik satu kelompok atau agama saja. Umat Buddha juga ikut berjuang memerdekakan negeri.
Menag RI
Menag (Menteri Agama) RI Yaqut Cholil Qoumas menekankan bahwa Indonesia bukan milik satu kelompok atau agama saja. Umat Buddha juga ikut berjuang memerdekakan negeri.
Menag RI Yaqut Cholil
Jakarta, Sinar.co.id – Menag (Menteri Agama) RI, Yaqut Cholil Qoumas menekankan, sesama umat beragama tidak boleh membatasi kepada umat tertentu dalam menjalankan ajaran kepercayaannya.

Hal ini disampaikan Menag pada gelar doa bersama untuk bangsa Wahana Negara Raharja (WNR) oleh Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) di Hotel Alila Solo, Jawa Tengah pada Jumat, (29/09/2023).

Baca Juga: Amin Komitmen Setarakan Pembangunan Wilayah Daratan dan Kepulauan

Menag Tekankan Indonesia Bukan Hanya Milik Satu Agama

Menag RI, menekankan Indonesia bukan hanya milik satu agama sehingga, tidak boleh ada batasan kepada umat tertentu dalam menjalankan ajaran kepercayaannya.

“Indonesia bukan hanya milik satu kelompok, bukan hanya milik suatu agama saja. Indonesia ini juga milik umat Buddha. Tidak usah takut mengklaim Indonesia negeri yang dimiliki umat Buddha,” katanya.

Baca Juga :   Gemerlap Saling Balap Bakal Calon Wakil Bupati Jember

Menurutnya, Indonesia sebagai sebuah tata negara terdiri dari banyak hal beragam baik suku, agama, maupun bahasa.

“Entitas keberagaman ini bernama Indonesia. Umat Buddha juga ikut berjuang memerdekakan negeri. Jenderal Gatot Subroto beragama Buddha. Dalam hal ini kontribusi umat Buddha tidak perlu dipertanyakan bagi negeri ini,” ujarnya.

Baca Juga: Ganjar Memperingati Maulid Nabi Bersama Majelis Taklim

Oleh karena itu, menurut Yaqut, jika ada pihak yang ingin mengganggu keragaman dengan menafikan apa yang sudah dikontribusikan oleh umat-umat beragama di Indonesia, berarti dia ingin merusak Indonesia.

“Siapa pun yang ingin merusak Indonesia, kita sebagai warga negara, kita sebagai umat beragama, kita yang memiliki saham atas negeri ini harus sama-sama bergandengan tangan melawan mereka.

Karena semua semua agama memegang saham maka wajar kita minta deviden suatu saat, deviden yang kita dapatkan tentu beragam,” tuturnya.

Baca Juga: Jokowi Beda Pilihan Wajar dan Tak Perlu Diributkan

Ia mengatakan deviden yang dimaksud salah satunya yakni, umat beragama diberikan kebebasan dalam menjalankan dan memeluk kepercayaan masing-masing.

“Jadi, kalau nanti saudara umat Buddha mengalami kesulitan, gangguan dalam melaksanakan ibadah tidak boleh diam.

Paparan Menag, Hak Umat Beragama

Hak bapak ibu sekalian untuk bisa beribadah sesuai agamanya. Kalau diganggu jangan mau,” tegasnya.

Ia mengatakan siapa pun yang menghalangi umat beragama untuk beribadah maka harus dilawan bersama-sama.

“Ini demi kecintaan terhadap Indonesia. Apalagi Majelis Nichiren Shoshu ini juga sudah melakukan kiprah keumatan yang luar biasa.

Tidak banyak organisasi keagamaan yang dalam aktivitas-nya menekankan kepada hal-hal yang bersifat kelestarian lingkungan dan keluarga.

Dari yang sedikit itu salah satunya majelis ini,” ucapnya.

Salah satu yang dilakukan adalah beberapa waktu lalu, tepatnya pada tahun 2016 Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia melakukan penanaman pohon buah di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Ia berharap kepedulian-nya terhadap lingkungan dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat secara luas.

“Ajaran damai, kasih sayang akan membawa kerimbunan yang sama sebagaimana pohon yang ditanam,” pungkasnya.

Ikuti update berita terbaru di Google News sinar.co.id


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page